Jepang Naikkan Kuota Tuna Setelah Lama Dibatasi, Apakah Akan Berpengaruh Positif?

 

Keputusan Jepang naikan kuota tuna setelah lama dibatasi penangkapannya menarik diperhatikan!
Kredit Gambar: Beth Macdonald/Unsplash

Tuna sirip biru Pasifik merupakan salah satu ikan paling berharga dalam kuliner Jepang. Namun, ikan yang menjadi bahan utama sushi dan sashimi premium ini pernah mengalami penurunan populasi akibat penangkapan berlebihan.

Kini, Jepang bersama negara lain menyepakati perubahan kuota tangkapan. Perubahan ini menarik karena aturan tangkap tuna di Jepang tidak hanya berbicara soal berapa banyak ikan yang boleh ditangkap, tetapi juga bagaimana menjaga stok tuna untuk masa depan.

Mengapa Penangkapan Tuna Jepang Perlu Diatur Ketat?

Tuna sirip biru Pasifik (Pacific bluefin tuna) pernah mengalami tekanan berat akibat overfishing. Populasinya kemudian mulai pulih setelah negara-negara di kawasan Pasifik menerapkan aturan penangkapan yang lebih ketat.

Jepang memiliki kepentingan besar dalam pengelolaan ikan ini karena tuna sirip biru sangat populer untuk sushi kelas atas. Karena itu, pemerintah Jepang tidak bisa begitu saja membiarkan nelayan menangkap sebanyak mungkin ketika stok ikan sedang melimpah.

Sistem saat ini membedakan tuna berdasarkan ukuran, yaitu ikan kecil di bawah 30 kilogram dan ikan besar minimal 30 kilogram. Aturan tersebut menjadi bagian dari pengelolaan internasional WCPFC untuk kawasan Pasifik Barat dan Tengah.

Aturan Tangkap Tuna di Jepang Dibuat Demi Keuntungan Bersama

Hal penting yang perlu dipahami adalah aturan tangkap tuna di Jepang bukan hanya dibuat oleh pemerintah Jepang. Tuna sirip biru Pasifik dikelola melalui kerja sama internasional, terutama Western and Central Pacific Fisheries Commission atau WCPFC untuk wilayah Pasifik Barat dan Tengah.

WCPFC menggunakan berbagai mekanisme seperti batas jumlah tangkapan, pembatasan aktivitas kapal, pemantauan perikanan, serta pencatatan hasil tangkapan. Jepang kemudian menerapkan batas tangkap tersebut dalam pengelolaan perikanan nasionalnya.

Menggunakan sistem seperti ini, negara-negara tidak bisa menentukan kuota sesuka hati karena harus mempertimbangkan kondisi populasi tuna secara bersama-sama.

Pembatasan Aturan Kuota Tuna Besar Naik 25 Persen Jadi Lebih Longgar

Perubahan terbaru memberikan tambahan ruang bagi nelayan untuk menangkap tuna berukuran besar. Mulai 2027, kuota tuna besar di kawasan Pasifik Barat dan Tengah naik dari 11.869 ton menjadi 14.836 ton, atau bertambah sekitar 25 persen.

Namun, pemerintah tidak menaikkan semua kuota. Kuota tuna berukuran kecil justru diturunkan dari 5.125 ton menjadi 4.823 ton, atau berkurang sekitar 6 persen.

Alasannya cukup masuk akal. Tuna kecil dianggap penting untuk menjaga ketersediaan ikan pada masa depan. Sementara itu, peningkatan kuota tuna besar dilakukan setelah kondisi stok menunjukkan pemulihan dan nelayan membutuhkan ruang tangkap yang lebih besar.

Apa Dampaknya untuk Konsumsi Tuna di Jepang?

Perubahan ini berpotensi membuat pasokan tuna sirip biru di Jepang menjadi lebih stabil. Sebelumnya, nelayan Jepang bahkan harus mengurangi aktivitas atau melepaskan sebagian hasil tangkapan ketika kuota yang tersedia sudah hampir habis.

Berkat tambahan kuota, nelayan memiliki kesempatan menangkap lebih banyak tuna besar tanpa melanggar batas internasional. Dalam jangka pendek, kondisi tersebut berpotensi membantu pasokan untuk restoran, pasar ikan, dan industri makanan Jepang.

Namun, bukan berarti harga sushi dan sashimi otomatis langsung turun. Harga tuna tetap dipengaruhi kualitas ikan, permintaan konsumen, distribusi, dan kondisi pasar internasional.

Apakah Semua Perikanan Jepang Ikut Naik Kuotanya?

Tidak. Ini merupakan salah satu hal yang sering disalahpahami ketika membaca berita mengenai kenaikan kuota tuna.

Perubahan terbaru secara khusus membahas tuna sirip biru Pasifik, bukan seluruh hasil laut yang ditangkap Jepang. Sektor perikanan di Jepang memiliki banyak jenis ikan dan masing-masing dapat memiliki aturan pengelolaan yang berbeda.

Bahkan dalam pengelolaan tuna sendiri terdapat pembagian wilayah dan mekanisme berbeda. Selain WCPFC, tuna sirip biru Pasifik di kawasan timur dikelola melalui Inter-American Tropical Tuna Commission atau IATTC.

Jadi, kenaikan kuota kali ini tidak berarti Jepang mendapatkan izin untuk meningkatkan semua aktivitas penangkapan ikan.

Tetap Ada Batas Agar Tuna Tidak Kembali Langka

Hal paling menarik dari perubahan ini adalah Jepang tidak sekadar meminta lebih banyak ikan untuk ditangkap. Kuota tuna besar memang dinaikkan, tetapi kuota ikan kecil justru dikurangi.

Sistem tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dan organisasi perikanan internasional sedang mencoba mencari keseimbangan antara kebutuhan industri saat ini dan keberlangsungan populasi tuna di masa depan.

Bagi Jepang, langkah ini sangat penting. Tuna sirip biru sudah menjadi bagian besar dari budaya makan, terutama sushi dan sashimi premium. Namun jika masalah keterbatasan tuna sirip biru di Jepang kembali terjadi akibat penangkapan berlebihan, kenaikan kuota hari ini justru bisa menjadi masalah baru di kemudian hari.

Karena itu, perubahan aturan tangkap tuna di Jepang sebenarnya bukan sekadar kabar tentang nelayan yang boleh menangkap lebih banyak ikan. Ini adalah upaya untuk memastikan tuna tetap tersedia bagi industri makanan Jepang tanpa mengulangi kesalahan overfishing di masa lalu.

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru