Jasa Pemakaman Hewan Peliharaan di Jepang Makin Tinggi Penggunaanya dari Tahun ke Tahun, Apa Alasannya?
![]() |
| Jasa pemakaman hewan peliharan di Jepang banyak digunakan karena orang sana menganggap peliharaan sebagai keluarga. Kredit Gambar: /Unsplash |
Baru tahu kalau penggunaan jasa pemakaman hewan peliharaan di Jepang makin naik dar tahun ke tahun. Banyak cerita bahwa orang Jepang memang menganggap hewan peliharaan sebagai keluarga sendiri. Hasilnya, saat peliharaan meninggal, mereka diperlakukan layaknya pemakaman manusia.
Upacara seperti ini, yang dulu dianggap tidak lazim, kini
menjadi pemandangan umum di berbagai kota di Jepang. Dalam satu dekade
terakhir, industri pemakaman hewan berkembang pesat sekali. Datanya bahkan bisa
dijadikan sebuah refleksi dari perubahan hubungan masyarakat Jepang dengan
hewan peliharaan mereka.
Aspek Baru di Negara yang Terbiasa Terkombinasi Ritual
Tradisional
Jepang memiliki sejarah panjang dalam menghormati kematian, dengan ritual keagamaan yang terstruktur rapi. Namun, tradisi yang sama kini diperluas untuk hewan peliharaan. Dari altar bergaya Buddhis, hingga krematorium khusus hewan yang menawarkan paket upacara, layanan yang tersedia semakin menyerupai pemakaman manusia.
Menurut beberapa penyedia jasa, permintaan meningkat terutama untuk kremasi individual, di mana hewan dibakar sendirian dan abu tulangnya dikembalikan kepada pemilik. Sebagian keluarga memilih untuk menyimpan abu di rumah dalam guci kecil, sementara yang lain memasukkannya ke kolumbarium khusus hewan di kuil Buddha.
Berikut adalah cuplikan penggunaan jasa ini dalam bentuk laporan video:
Dua Sisi Industri Pemakaman Hewan Peliharaan di Jepang
Meski banyak cerita yang mengharukan, pertumbuhan industri
ini juga membuka masalah baru. Konsumen mengeluhkan biaya yang tinggi dan
standar layanan yang tidak konsisten, terutama dari layanan mobil kremasi (移動火葬車)
yang beroperasi tanpa fasilitas tetap.
Beberapa laporan investigatif mengungkapkan kasus penipuan:
mulai dari kremasi massal yang tidak diinformasikan kepada pemilik, hingga
ancaman bahwa jenazah hewan akan “dikembalikan dalam kondisi setengah hangus”
jika biaya tambahan tidak dibayar. Masalah semacam ini memicu seruan untuk
regulasi yang lebih ketat.
Menurut pengamat industri dan peneliti jasa pemakaman hewan,
layanan ini sangat berpengaruh secara emosional dan dilakukan saat orang sedang
berduka, hasilnya risiko eksploitasi menjadi lebih tinggi. Makanya diperlukan
pengawasan yang ketat.
Ketika Hewan Menjadi Pengganti Peranan Anak
Fenomena semakin mahal dan kompleksnya pemakaman hewan tidak dapat dilepaskan dari perubahan demografi Jepang. Tingkat kelahiran terus menurun, sementara jumlah rumah tangga satu orang meningkat. Banyak warga yang memilih hidup dengan hewan peliharaan sebagai kompensasi atas kesepian.
Bagi sebagian pemilik, ikatan emosional dengan hewan justru lebih kuat daripada hubungan keluarga tradisional. Hal ini bahkan menjadi trend unik di Jepang karena jumlah kepemilikan peliharaan lebih tinggi daripada jumlah kelahiran bayi setiap tahunnya. Nih ada bahasannya dari orang Jepang:
Di wilayah urban, ruang untuk mengubur hewan semakin sulit
ditemukan. Hal ini membuat kremasi menjadi pilihan yang hampir tidak
terhindarkan. Tidak hanya anjing dan kucing; beberapa perusahaan bahkan
menyediakan layanan untuk hamster, burung, dan ikan hias.
Ritual yang Meringankan Kesedihan
Psikolog di Jepang mencatat bahwa upacara pemakaman hewan
sering membantu pemilik memproses kehilangan. Tindakan sederhana seperti
menuliskan pesan terakhir, memegang abu, atau mengikuti ritual Buddhis turut
memberi rasa penutup (closure).
Beberapa kuil kini menawarkan upacara peringatan tahunan (供養祭)
untuk hewan, mirip dengan peringatan untuk manusia. Upacara ini menarik puluhan
keluarga yang datang membawa foto hewan peliharaan mereka.
Perspektif inilah yang dijadikan patokan bagi jasa pemakaman
di kuil Kanagawa seputar layanan untuk hewan peliharaan. Bagi pihak kuil, jasa
pemakaman ini bukan bisnis, melainkan cara menghormati mahluk yang pernah
memberikan kebahagiaan bagi seseorang.
Pasar yang Akan Terus Tumbuh
Pasar pemakaman hewan Jepang diperkirakan akan terus
meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Penyedia jasa memperkenalkan layanan
baru: penyimpanan abu jangka panjang, paket pemakaman di rumah, altar mini,
hingga liontin berisi sedikit abu sebagai kenang-kenangan.
Penggunaan jasa ini juga digunakan para pemilik cafe hewan. Setiap ada member cafe yang meninggal, pasti ada upacara duka yang besar juga. Peliharaan di cafe bahkan memiliki impact tidak hanya di pemilik, tapi juga customer-nya.
Sayangnya di balik pertumbuhan itu, pertanyaan tetap muncul:
sejauh mana Jepang perlu mengatur industri yang sangat personal dan emosional
ini?
Para ahli berpendapat bahwa selama masyarakat memandang hewan sebagai bagian dari keluarga, permintaan layanan pemakaman yang “manusiawi” tidak akan surut. Krematorium hewan, meski awalnya kontroversial, mulai dipandang sebagai simbol perkembangan nilai keluarga modern di Jepang.


