Kenapa Seijin no Hi Begitu Spesial? Intip Momen Paling Berkesan Saat Anak Muda Jepang Resmi Dewasa!
![]() |
| Coming of Age Day Jepang untuk Merayakan Transisi Kaum Muda Menuju Kedewasaan |
Kredit Gambar : @japan/X.com
Seijin no Hi di Jepang
adalah salah satu hari libur nasional paling penuh warna dan makna yang
diperingati setiap hari Senin ke dua di bulan Januari. Hari ini dikenal juga sebagai Coming of Age Day Jepang,
sebuah tradisi penting untuk merayakan transisi kaum muda menuju kedewasaan
secara resmi dan penuh kebanggaan.
Seijin no Hi sebagai Tradisi Budaya Peralihan Menuju Dewasa
It's Japan's Coming-of-Age Day! Young adults turning 20 wear beautiful traditional kimonos 👘 or sharp suits 👔 at local ceremonies marking their transition into adulthood that are held nationwide as a cherished cultural milestone.https://t.co/EX0Fuv7nwq#ComingOfAgeCeremony pic.twitter.com/6d82ts2YZi
— japan (@japan) January 12, 2026
Seijin no Hi di Jepang
dirayakan pada Senin
kedua di bulan Januari, yang di tahun 2026 jatuh pada tanggal 12 Januari
dan menjadi hari libur
nasional resmi di seluruh negeri. Hari ini ditujukan untuk
menghormati para pemuda yang mencapai usia dewasa dalam kurun waktu April 2025
sampai April 2026. Dalam upacara yang disebut Seijin-shiki, para peserta yang
kini menjadi “orang dewasa baru” menghadiri seremoni secara formal yang diselenggarakan
oleh pemerintah kota atau wilayah setempat. Mereka akan mendengarkan pidato
dari pejabat, menerima pesan motivasi tentang tanggung jawab dalam masyarakat,
dan seringkali mendapatkan cendera mata kecil sebagai tanda penghargaan.
Tradisi Coming of Age Day Jepang
memiliki akar yang sangat panjang dalam budaya Jepang, dimulai dari ritual kuno
saat seorang anak dipersiapkan secara simbolis menjadi anggota dewasa
masyarakat. Di zaman modern, upacara ini menjadi kesempatan langka bagi
generasi muda untuk merayakan pencapaian besar dalam hidup mereka.
Salah satu aspek paling mencolok
dari Seijin no
Hi di Jepang adalah pakaian yang dikenakan peserta. Banyak
perempuan muda memilih untuk mengenakan furisode, yaitu kimono lengan panjang yang
mewah, penuh warna, dan dianggap sebagai simbol status tidak menikah. Para
lelaki biasanya memakai setelan jas modern atau berupa hakama tradisional
yang formal. Suasana di sekitar venue upacara seperti balai kota atau aula umum
menjadi sangat hidup. Para “orang dewasa baru” berkumpul bersama teman sekelas,
bertemu kembali dengan kenalan lama, dan berfoto bersama keluarga. Ini bukan
hanya acara formal banyak yang kemudian melanjutkan perayaan dengan makan
bersama, reunian, atau sekadar berjalan-jalan menikmati hari libur bersama
sahabat.
Makna Mendalam di Balik Perayaan
Seijin no Hi di Jepang
bukan sekadar perayaan seremonial. Momen ini menandai perubahan besar dalam
kehidupan seseorang dari remaja ke fase dewasa penuh tanggung jawab, hak, dan
kebebasan baru. Sebagai “orang dewasa baru”, mereka kini secara hukum dapat
mengambil keputusan yang lebih luas tentang hidup mereka, termasuk hak suara,
kontrak resmi, dan kebebasan pribadi. Walaupun undang-undang Jepang menurunkan
usia legal dewasa dari 20 ke 18 tahun per April 2022, banyak komunitas
masih merayakan Seijin no
Hi pada usia 20 demi menghormati tradisi lama dan memberikan
makna yang lebih kuat terhadap perayaan ini. Perayaan ini memiliki nuansa
nasional yang kuat sekolah, bisnis, dan banyak tempat umum tutup pada hari tersebut
sebagai bentuk dukungan terhadap generasi baru yang akan menjadi bagian penting
dalam perkembangan budaya, ekonomi, dan kehidupan sosial Jepang.
Makna Seijin no Hi di Jepang bukan hanya tentang upacara dan
pakaian indah, tetapi tentang memulai fase baru sebagai orang dewasa yang siap
mengambil tanggung jawab dan menentukan arah hidup. Banyak anak muda Jepang
memaknai hari ini sebagai titik awal untuk serius menata masa depan baik dalam
pendidikan, karier, maupun kontribusi sosial.
Jika kamu juga berada di fase yang sama dan punya mimpi
berkembang di Jepang, salah satu langkah nyatanya adalah mempersiapkan diri
sejak awal melalui program magang ke Jepang yang resmi dan terarah. Dengan
pembekalan bahasa, budaya kerja, dan mental disiplin khas Jepang, pengalaman
magang bisa menjadi gerbang menuju kedewasaan profesional yang sesungguhnya.


