Gak Nyangka Jumlah Siswa Asing di Sekolah Keperawatan Jepang Melebihi Siswa Lokal, Kenapa Bisa Sampai Kayak Gini?

 

Ternyata jumlah siswa asing di sekolah keperawatan Jepang lebih banyak dari siswa warga lokal.
Kredit Gambar: Julia Taubitz/Unsplash

Dari hasil pengumpulan data, siswa asing di sekolah keperawatan Jepag sedang meningkat. Hal ini menjadi sorotan stelah berita jumlah pekerja asing di sektor perawat lansia Jepang terus meningkat. Setelah diusut, sekolah pelatihan kaigo bersertifikat menunjukan peningkatan siswa asing.

Sekolah perawat bersertifikat di Jepang menjadi satu-satunya kualifikasi nasional di Industri kaigo. Nah, mereka menunjukan data jumlah siswa internasional untuk pertama kalinya melampaui jumlah siswa dari Jepang pada tahun 2025.

Kondisi Industri Kaigo Jepang Butuh Tenaga Kerja Asing Tapi Dalam Posisi Sulit

Tenaga perawat asing selalu menjadi bagian penting dari masyarakat Jepang. Mereka mengisi kekurangan tenaga kerja di tengah kebutuhan perawat lansia yang meningkat.

Masyarakat Jepang menua dengan cepat dan banyak daerah sedang dalam krisis kebutuhan pekerja kaigo. Hal inilah yang membuat sekolah perawat Jepang masih menerima warga asing. Namun, penerimaan warga asing ini menghasilkan masalah tersendiri.

Pihak sekolah saat ini sedang menghadapi tantangan hambatan bahasa dan budaya, serta perubahan sistem yang berhubungan dengan status kerja warga asing. Upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk membantu melatih dan mengarahkan siswa asing ini sampai sekarang masih dalam masa transisi. Sepertinya kurikulum yang tersedia masih kurang untuk mengarahkan banyak siswa asing yang mendaftar.

Fakta Pelatihan Calon Perawat Lansia Asing di Jepang

Gambaran peserta sekolah keperawatan di Jepang lebih banyak berasal dari warga asing.
Kredit Gambar: /Flickr

Di Sekolah Pekerja Perawatan Hiraoka, sebuah sekolah kejuruan di Ogori, Prefektur Fukuoka, kelas-kelas kecil diadakan untuk mempersiapkan ujian nasional pekerja perawatan bersertifikat yang digelar setiap Januari.

Nahoko Manako, kepala sekolah sekaligus pengajar bidang medis dan studi disabilitas, menekankan bahwa menghafal istilah saja tidak cukup untuk menghadapi ujian. “Kamu harus memahami makna dari setiap istilah untuk benar-benar memahami materi,” ujarnya kepada para siswa. Manako juga melengkapi penjelasannya dengan bahasa Inggris dan Nepal jika diperlukan.

Siswa belajar selama dua tahun sebelum mengikuti ujian nasional di Januari tahun kedua. Dari 36 siswa tahun kedua tahun ini, 10 adalah warga Jepang, 25 berasal dari Nepal, dan satu dari Filipina. Ini adalah kelas pertama yang jumlah siswa asing-nya melampaui siswa Jepang di sekolah tersebut.

Untuk persiapan ujian, siswa rutin mengerjakan kuis yang disiapkan guru dan mengumpulkan tugas setiap hari. Video pembelajaran juga disediakan agar mereka bisa mengulang materi di rumah. Siswa asing di sekolah keperawatan Jepang terlihat lebih antusias mengikuti program-program pembelajaran tersebut.

Di dalam gedung sekolah, poster dan kertas selebaran berisi poin-poin penting terlihat ditempel di tempat strategis. Tempelan ini berisi lengkap dengan panduan pelafalan dan juga materi penting soal sikap. Misalnya di tangga terdapat tulisan seperti “Tinggi anak tangga: maksimal 18 cm” dan “Lebar pijakan: minimal 26 cm,” sehingga siswa bisa terus mengingatnya saat lewat.

Fasilitas tempelan dan juga model belajar ini adalah bentuk dedikasi sekolah untuk membantu siswa lulus. Fokus sekolah tentu ingin semua siswa lulus ujian sertifikasi nasional kaigo. Namun, perbedaan kebutuhan antara pekerja asing dan asli Jepang sering menghasilkan kesulitan tersendiri.

Motivasi Belajar Tinggi Dari Peserta Siswa Asing di Sekolah Keperawatan Jepang

Sagun Tamang, merupakan siswa asal Nepal. Sebelumnya dirinya belajar sosiologi sebelum datang ke Jepang pada April 2022, tetapi sekarang dirinya fokus belajar keperawatan ala Jepang. Ia masuk ke Hiraoka setelah mengikuti sekolah bahasa Jepang dari negaranya. Kini ia membagi waktu antara belajar dan bekerja paruh waktu di panti jompo. Setelah bekerja beberapa waktu di Jepang, ia berharap bisa berkarier di bidang perawatan di Nepal.

Dari hasil wawancara, ia mengaku suka merawat orang. Dirinya juga selalu ingin menjadi caregiver. Sagun Tamang menekankan ia ingin merawat kakeknya di kampung halaman. Dirinya juga menjelaskan kalau di Nepal tidak ada tempat untuk belajar keperawatan lansia seperti di Jepang. Ia berharap dengan jadi mahir bahasa Jepang, dirinya bisa belajar banyak dari industri Kaigo di sini.

Pekerja perawatan bersertifikat memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus. Mereka tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga berperan dalam mengelola kehidupan sehari-hari pasien dengan bekerja sama dengan tenaga profesional lain. Keperluan tenaga kaigo di Jepang bisa dibilang makin krusial di sana!

Antusiasme siswa asing bisa menjadi ukuran bahwa industri kaigo Jepang masih ada harapan. Tenaga kerja asing bisa menjadi sumber pembantu sendiri untuk jadi solusi kondisi lansia Jepang yang butuh banyak perawat.

Kondisi Jumlah Siswa Perawat Lansia Jepang yang Terus Menurun Tiap Tahun

Jumlah siswa dari warga lokal yang mendaftar perawat di Jepang terus menurun tiap tahunnya.
Kredit Gambar: /Flickr

Walaupun antusiasme dari warga asing tinggi, jumlah siswa dari pihak Jepang terus menurun. Menurut Asosiasi Lembaga Pelatihan Pekerja Perawatan Jepang, jumlah siswa Jepang turun dari sekitar 20.000 orang 20 tahun lalu menjadi sekitar 3.300 pada tahun 2025. Penyebabnya antara lain penurunan populasi usia muda dan gaji yang masih di bawah rata-rata industri lain.

Untuk mengisi kekurangan tersebut, siswa asing di sekolah keperawatan Jepang mulai diterima lebih banyak. Pada tahun ajaran 2025, total 4.074 siswa asing mendaftar, untuk pertama kalinya melampaui jumlah siswa Jepang.

Meski begitu, hal ini belum sepenuhnya menutupi penurunan jumlah siswa. Jumlah institusi pelatihan juga menurun dari lebih dari 400 menjadi 272, dengan banyak yang terkonsentrasi di daerah perkotaan.

Seiji Ogasawara, wakil ketua asosiasi sekaligus kepala sekolah perawatan di Kota Fukuoka, khawatir beberapa daerah pedesaan tidak lagi memiliki institusi pelatihan. Menurutnya, jika angka yang mendaftar terus mengecil, sekolah pelatihan tidak akan bisa lagi memasok tenaga perawatan untuk komunitas lokal.

Bannyak yang memandang kurangnya siswa Jepang masuk ke sekolah perawat berhubungan dengan insentif juga. Kalau siswa asing, mereka ingin sekolah karena mendapatkan kualifikasi nasional memiliki keuntungan tersendiri. Contohnya seperti bisa membawa keluarga ke Jepang dan memperpanjang izin tinggal tanpa batas.

Sebagian besar siswa internasional berencana bekerja setidaknya lima tahun di Jepang setelah lulus. Alasan utama mengambil kerja lima tahun ini adalah adanya beasiswa pemerintah hingga ¥1,68 juta yang tidak perlu dikembalikan jika mereka bekerja selama lima tahun sebagai caregiver.

Selain itu, ada kebijakan khusus yang memungkinkan lulusan bekerja sebagai caregiver selama lima tahun meskipun belum lulus ujian nasional. Jika mereka bekerja terus selama lima tahun, mereka bisa melanjutkan karier tersebut.

Kebijakan ini dianggap sebagai langkah untuk menarik tenaga kerja asing terus mengisi sistem keperawatan lansia di Jepang. Data menunjukkan tingkat kelulusan ujian nasional tahun 2024 adalah 95,3% untuk siswa Jepang dan 47,9% untuk siswa asing. Hambatan bahasa, terutama istilah teknis dan soal tertulis, masih menjadi tantangan besar.

Tanpa kebijakan ini, jumlah siswa asing yang ingin bekerja di Jepang diperkirakan akan turun drastis. Karena kebijakan ini akan berakhir pada Maret 2027, perdebatan tentang perpanjangannya semakin intens.

Pemerintah Harus Mencoba Menarik Ketertarikan Siswa Jepang

Pemerintah harus mau meningkatkan gaji bekerja kaigo dibandingkan rata-rata industri. Selain itu, beri benefit lebih seperti asuransi tambahan dan juga bonus tunjangan bagi mereka yang mau kerja di bidang ini. Semua harus dipikirkan demi kondisi industri kaigo Jepang yang sekarang butuh banyak tenaga kerja.

Semoga kedepannya siswa asing di sekolah keperawatan Jepang sebanding dengan siswa yang berasal dari Jepang. Jika insentif kerja sebagai perawat lansia tinggi, makin banyak orang akan perduli juga dengan pengurusan para lansia di Jepang. Akhirnya, kondisi para lansia lebih baik bisa terawat oleh negara!

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru