Gelombang Panas di Jepang Makin Ekstrem, Suhu 40°C Bukan Hal yang Jarang Lagi!
![]() |
| gelombang panas di Jepang makin parah dan suhu tinggi makin sering muncul di banyak daerah. Kredit Gambar: /Unsplash |
Gelombang panas di Jepang pada musim panas 2026 menjadi
bagian dari fenomena panas ekstrem yang melanda kawasan Asia Timur. Suhu di
sejumlah wilayah Jepang bahkan menembus 40°C, menunjukkan bahwa musim panas di
negara tersebut semakin menghadirkan tantangan serius bagi masyarakat.
Namun, apa yang sebenarnya terjadi di Jepang dan mengapa
panas ekstrem seperti ini bisa muncul?
Asia Timur Sedang Menghadapi Panas Ekstrem
Jepang bukan satu-satunya negara yang merasakan suhu luar
biasa tinggi. Korea Selatan, China, Hong Kong, hingga Korea Utara juga menghadapi
kondisi panas ekstrem dalam periode yang sama.
Fenomena panas ekstrim di Asia Timur ini dipengaruhi pola
atmosfer yang membuat udara panas bertahan lebih lama. Sistem tekanan tinggi
dapat menyebabkan udara turun dan menghangat di dekat permukaan sehingga suhu
semakin sulit turun.
Di Jepang, kondisi tersebut terlihat jelas pada 21 Juli.
Tajimi di Gifu mencapai 40,3°C, sementara Gujo dan Toyota masing-masing
mencapai 40°C dan 40,1°C.
Jepang Mulai Bikin Istilah Khusus untuk Pahas yang Sampai
Suhu 40°C
Suhu 40°C bahkan mulai dianggap sebagai sesuatu yang
berulang di Jepang. Negara tersebut telah mengalami suhu minimal 40°C selama
sembilan tahun berturut-turut sejak 2018.
Badan Meteorologi Jepang atau JMA bahkan mulai menggunakan
istilah “kokushobi” untuk hari ketika suhu maksimum mencapai 40°C atau lebih.
Sebelumnya, masyarakat lebih familiar dengan istilah moshobi, yaitu hari dengan
suhu minimal 35°C.
Artinya, standar pengalaman masyarakat terhadap panas
ekstrem juga perlahan berubah.
Dampaknya Tidak Hanya ke Manusia
Panas ekstrem ini memberikan dampak langsung terhadap
kehidupan masyarakat. Di Tokyo, sebanyak 261 orang dibawa ke rumah sakit karena
dugaan heatstroke pada 21 Juli.
Pada hari yang sama, layanan darurat menerima 3.454
panggilan. Keduanya menjadi angka tertinggi dalam pencatatan masing-masing
berdasarkan data yang tersedia.
Dampaknya juga terlihat pada hewan. Tiga singa betina di
sebuah kebun binatang Tokyo dilaporkan mati ketika gelombang panas ekstrem
melanda.
Situasi ini menunjukkan bahwa gelombang panas di Jepang
bukan sekadar persoalan cuaca tidak nyaman, tetapi sudah menyentuh kesehatan,
aktivitas masyarakat, hingga kesejahteraan hewan.
Untuk atasi masalah ini, beberapa perusahaan Jepang bahkan
membuat kulkas untuk manusia. Tujuannya, adalah ruang kecil yang bisa digunakan
untuk istirahat dan mendinginkan tubuh di publik. Banyak yang memandang hal ini
bisa membantu para pekerja ataupun orang umum di publik yang tidak kuat dengan
suhu panas ekstrim di Jepang.
Berikut ada laporan CNN soal alat kulkas manusia ini:
Perubahan Iklim Membuat Panas Makin Mengkhawatirkan
Pola cuaca regional memang berperan dalam munculnya panas
ekstrem 2026. Anomali tekanan atmosfer dan fenomena El Niño juga disebut
sebagai faktor yang dapat memperkuat kondisi tersebut.
Namun, latar belakangnya tidak bisa dilepaskan dari masalah
perubahan iklim global. Pemanasan global membuat gelombang panas seperti ini
semakin mungkin terjadi dan berpotensi menjadi lebih intens.
Bagi WNI yang ingin bekerja atau tinggal di Jepang, kondisi
ini juga perlu diperhatikan. Jepang yang selama ini dikenal memiliki empat
musim kini menghadirkan tantangan baru berupa musim panas dengan suhu yang
semakin ekstrem. Adaptasi terhadap cuaca panas bukan lagi sekadar pilihan,
tetapi bagian penting dari persiapan hidup di Jepang.


