Hamamatsu Buka Lowongan Tenaga Kerja Asing di Jepang yang Menarik Orang Tinggal Jangka Panjang, Buat Apa Strategi Ini?


Tampilan kota Hamamatsu yang buka lowongan tenaga kerja asing di Jepang dalam jumlah banyak.
Kredit Gambar: Tommy Chen/Unsplash

Gak nyangka ada kenaikan jumlah lowongan tenaga kerja asing di Jepang. Lowongan kerja untuk WNA ini makin banyak terutama di area Hamamatsu. Kota ini berlokasi 250 km dari Tokyo dan menjadi pusat industri. Lowongan di kota ini terus ada dan sepertinya mengincari tenaga kerja asing untuk tinggal jangka panjang.

Strategi ini ternyata dilakukan atas ide dari Yusuke Nakano selaku Wali Kota Hamamatsu. Berdasarkan data, kondisi penduduk kota ini dalam bahaya penyusutan. Diprediksi pada tahun 2040, kota ini akan menyusut angka penduduknya sebanyak 10% dibandingkan sekarang. Masalah penyusutan penduduk di daerah Jepang memang lagi parah sekarang!

Nah, sebagai solusi, pihak Hamamatsu ingin serap warga asing sebagai pekerja dan mencoba ajak mereka tinggal jangka panjang. Jika para pekerja asing mau tinggal tetap di Jepang dan berintegrasi dengan masyarakat sana, kondisi demografi dan penyusutan penduduk bisa diatasi.

Berdasarkan data 2024, jumlah penduduk di Hamamatsu ada 770.000 dan 30.000 di antara-nya merupakan pekerja asing. Namun, status para warga asing tersebut tidak sepenuhnya menetap jangka panjang. Strategi Kota Hamamatsu adalah membuat para pendatang itu mau tinggal lama dan juga datangkan lebih banyak lagi warga asing.

Kota Hamamatsu adalah tempat yang sangat sensitif soal jumlah penduduk. Di sini banyak perusahaan besar seperti Honda, Suzuki, Kawai dan Roland yang harus dipertahankan. Jika jumlah penduduk terus menyusut, apakah perusahaan dengan industri besar ini mau menetap di kota ini?

Makannya, pihak kota ini buka lowongan tenaga kerja asing di Jepang besar-besaran. Mereka ingin para tenaga kerja asing masuk Jepang, kerja di Hamamatsu dan bahkan tinggal menetap di sana. Menurut Nakano yang memegang peran wali kota, solusi ini adalah yang terbaik saat ini.

Para tenaga kerja asing yang datang dapat mengisi kebutuhan kerja industry di Hamamatsu. Sedangkan pihak pemerintah dapat mencari solusi meningkatkan angka mortalitas di kota tersebut. Paling tidak selama cari solusi, kondisi industry tetap bertahan dan mencegah ekonomi ambruk.

Hamamatsu memiliki sejarah menyerap imigran dari luar Jepang di era 1970 dan 1980-an. Mereka menyerap banyak pekerja dari Brasil saat itu. Saking banyaknya tenaga kerja dari Brasil, kamu bisa temukan layanan ATM berbahasa Portugis pada era tersebut.

Sekarang, tenaga kerja yang banyak di Hamamatsu datang dari India. Pekerja generasi baru ini lebih tinggi kualitasnya dan mampu mengisi banyak lowongan tidak hanya sektor buruh, pabrik dan manufaktur. Banyak yang berupa insinyur profesional dan developer pengembang perangkat lunak juga.

Kebanyakan tenaga kerja kualitas atas ini adalah hasil program Suzuki. Mereka tercatat terakhir rekrut 200 insinyur dari anak perusahaan di India sekaligus langsung rekrut dari Universitas ternama seperti Hyderabad di India. Hasilnya, banyak tenaga kerja berkualitas India sekarang kerja di Hamamatsu.

Walaupun jumlah pekerja bagus dari India yang datang banyak, masalah retensi mereka menjadi sumber pusing pihak Hamamatsu. Pemerintah ingin solusi mengajak pekerja asing tinggal jangka panjang di Jepang. Selama tinggal lama di sana, para tenaga kerja asing bisa integrasi dan bahkan membangun keluarga di Jepang.

Hal ini bisa memperbaiki masalah populasi Jepang nantinya. Sekalipun tidak menjadi obat yang cepat bekerja, para pendatang yang tinggal jangka panjang bisa menekan kecepatan penyusutan penduduk Hamamatsu.

Masalah tenaga kerja asing tidak mau menetap di Hamamatsu sebenarnya ada banyak. Pertama, para tenaga kerja dengan kualifikasi tinggi merasa fasilitas di kota tersebut kurang. Contoh saja, tidak ada sekolah internasional tersedia di area Hamamatsu yang cukup bagus untuk anak-anak para tenaga kerja asing yang datang.

Untuk pekerja level buruh seperti dari Indonesia di Hamamatsu, masalahnya ada di biaya hidup. Terlalu lama tinggal di Jepang artinya pengeluaran makin besar. Kalau sudah selesai kontrak kerja, para pekerja level ini memilih pulang untuk menikmati pendapatan yang sudah dikumpulkan kerja di Jepang.

Masalah di Hamamatsu tidak berhenti sampai situ. Para muda-mudi asli kota tersebut juga banyak yang pergi dan memilih kerja di Tokyo. Artinya, tenaga kerja muda Hamamatsu terus terserap daerah lain dan perparah kondisi demografi di sana.

Semoga kedepannya ada solusi lebih baik soal ini. Pihak pemerintah Kota Hamamatsu harus memastikan ada daya tarik tersendiri untuk kerja jangka panjang di lokasi tersebut. Jika bisa membuat daya tarik tersendiri ini, pasti lebih banyak yang ingin kerja di Kota Hamamatsu Jepang pada akhirnya.

Sekian bahasan tentang banyaknya lowongan tenaga kerja asing di Jepang saat ini. Apakah kamu tertarik kerja di Hamamatsu dan tinggal lama di sana?

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru