LPK yang Menerima Mata Minus Apakah Tetap Bisa ke Jepang? Wajib Tahu Kalau Mau Kerja ke Sana!
![]() |
| LPK yang menerima mata minus ada banyak, tetapi kamu harus tahu detail bisa ke Jepang dari situ. Kredit Gambar: /Unsplash |
Buat kamu
yang punya mata minus, mungkin pertanyaan ini sering muncul di kepala, “Kondisi mata minus gini, apakah masih bisa kerja ke Jepang?” Banyak yang akhirnya
ragu melangkah cuma karena merasa kondisi matanya sudah jadi penghalang sejak
awal. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Sekarang
sudah cukup banyak LPK yang menerima mata minus, tetapi penting untuk dipahami
bahwa setiap jalur kerja ke Jepang punya standar yang berbeda. Salah satu
kesalahan paling umum adalah menganggap semua program ke Jepang punya
persyaratan yang sama, padahal faktanya sangat bervariasi tergantung
penyelenggara dan perusahaan penerima di Jepang.
Contohnya
bisa dilihat dari perbedaan antara jalur IM Japan dan jalur magang swasta (SO).
IM Japan dikenal memiliki syarat ke Jepang yang lebih ketat, termasuk soal
kondisi fisik seperti mata. Mereka cenderung mencari peserta dengan kondisi
penglihatan normal tanpa gangguan, karena banyak bidang pekerjaan yang
berkaitan dengan mesin, detail teknis, dan keselamatan kerja. Di situ, mata
yang benar-benar prima dianggap sangat penting.
Sementara itu, di jalur magang swasta, pendekatannya jauh lebih fleksibel. Banyak perusahaan Jepang yang lebih fokus pada kemampuan kerja dan kemampuan bahasa, jadi tidak perhitungkan kondisi mata. Contoh saja pekerjaan sebagai staff restoran ataupun hotel!
![]() |
| Menjadi staff restoran di Jepang terkadang masih boleh memiliki mata minus ringan selama pakai kacamata. Kredit Gambar: /Unsplash |
Karena itu, tidak sedikit LPK yang menerima
mata minus selama minusnya masih dalam batas wajar dan bisa dikoreksi dengan
kacamata atau lensa kontak.
Artinya,
pernyataan bahwa mata minus bisa ke Jepang bukan sekadar harapan kosong, tapi
memang realitas yang terjadi di lapangan. Namun tentu saja, semua tetap
tergantung pada seberapa besar minus kamu dan apakah disertai kondisi lain
seperti silinder atau buta warna. Jika hanya minus ringan, peluang masih cukup
terbuka. Namun kalau sudah disertai gangguan penglihatan lain, opsi kerja ke Jepang biasanya lebih sempit.
Hal lain yang
sering tidak disadari adalah, kondisi mata bukan satu-satunya penentu. Dalam
proses perekrutan, perusahaan juga melihat fisik secara keseluruhan, mental
kerja, sikap, serta hasil wawancara. Bahkan di industri yang sama, sikap perusahaan terhadap mata minus bisa berbeda-beda. Bisa jadi satu perusahaan
sangat ketat, sementara perusahaan lain lebih toleran meskipun jenis
pekerjaannya serupa.
Karena itu,
kalau kamu benar-benar punya mimpi bekerja ke Jepang tapi terhalang rasa minder
soal mata minus, langkah paling bijak adalah mencari informasi sedini mungkin.
Cari tahu LPK mana yang terbuka untuk kondisi mata seperti punyamu, cek kondisi
matamu secara profesional, dan persiapkan diri sebaik mungkin dari segi skill
serta mental.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan cuma soal mata minus bisa ke Jepang atau tidak, tetapi seberapa siap kamu memperjuangkan peluang tersebut. Karena dalam banyak kasus, yang membuat gagal bukan kondisi fisik, tapi rasa ragu yang keburu menang duluan.
Kalau kamu memiliki mata normal, kamu lebih punya banyak pilihan jalur ke Jepang. Contoh saja, menggunakan jalur pemerintah resmi seperti IM Japan. Kalau tertarik ikut IM Japan, jangan lupa memilih LPK Saitama sebagai tempat belajar kamu!


.jpg)
