Gak Nyangka 70 Persen Anak Kecil di Jepang Punya Teman Online, Apakah Ini Aman?

 

Anak kecil di Jepang ternyata banyak yang punya teman online dan sudah sering aktivitas sosial di internet!
Kredit Gambar: Ikarovski/Unsplash

Sama seperti di negara lain, anak kecil di Jepang sekarang lebih online dibanding generasi sebelumnya. Mereka punya dua dunia berbeda yaitu dunia nyata dan dunia digital tempat mereka bersosialisasi.

Anak-anak Jepang tidak lagi mengandalkan sekolah, taman atau lingkungan rumah untuk cari teman. Mereka ternyata bisa jalin pertemanan melalui game online, media sosial, dan komunitas digital. Interaksi online mulai dianggap sama normalnya dengan bermain bersama secara langsung.

Hasil Survei di Jepang Menunjukan Anak Umum Punya Teman Online!

Survei terhadap lebih dari 1.600 siswa SD dan SMP oleh Nifty Kids menunjukkan bahwa lebih dari 70% anak Jepang memiliki setidaknya satu teman online. Sekarang sudah menjadi hal umum soal digitalisasi interaksi sosial anak. Soalnya sudah umum anak-anak bisa akses online dan mengenal komunitas digital di dalamnya!

Menariknya, banyak teman online anak-anak ini berasal dari kelompok usia yang lebih tua. Sekitar 40% responden mengatakan mereka berinteraksi dengan orang yang usianya 1–3 tahun lebih tua. Kesamaan minat seperti game atau hobi membuat hubungan lintas usia menjadi lebih mudah dibandingkan interaksi di dunia nyata.

Apakah Para Anak di Jepang Aman di Dunia Digital?

Teman online anak Jepang sudah menjadi hal umum, banyak yang pertanyakan soal keamanan anak di dunia digital juga. Hal ini makin jelas bahayanya karena dari data survei, sebanyak 81,9% anak mengaku pernah membagikan informasi pribadi kepada teman online mereka.

Info yang dibagikan memiliki range hal yang umum seperti jenis kelamin dan usia. Namun, ada juga yang membagi hal lebih privat seperti nama asli, tanggal ulang tahun dan bahkan area tempat tinggal. Ini menunjukan pembelajaran keamanan berperilaku di dunia online menjadi lebih penting.

Diharapkan para orang tua mulai mengarahkan anaknya soal ini. Banyak anak kecil di Jepang sudah mendapatkan akses internet sebelum mereka siap untuk jaga diri. Untungnya di Jepang, para anak belajar secara otodidak soal keamanan diri. Hal ini dibuktikan dengan 90% responden mengaku menghindari bertemu langsung dengan teman online.

Di era digitalisasi interaksi sosial anak, punya teman online tentu tidak masalah. Selama efeknya masih positif  pada si anak. Kalau di Jepang, budaya yang membatasi interaksi digital dengan tatap muka langsung sudah menjadi hal umum.

Jarang sekali anak-anak di Jepang mencampur kehidupan sosial online dan offline mereka. Hanya pada teman yang benar-benar dekat saja, interaksi online bisa menjadi pertemanan offline. Patokan yang dipegang anak Jepang adalah jangan mudah percaya pada pihak yang hanya kenal online saja!

Pastikan Belajar dari Anak Jepang yang Berusaha Aman di Era Digital!

Kesimpulannya, pola pertemanan anak-anak Jepang sedang berevolusi. Esensi pertemanan tetap sama yaitu berbagi pengalaman dan kesenangan Walaupun begitu kondisi interaksi sosial online diperkuat dengan kehadiran internet sebagai medium utama interaksi sosial.

Di era serba digital ini, anak-anak Jepang dipandang lebih mampu jaga diri karena mampu batasi interaksi sosial online dan offline. Walaupun informasi diri kurang mereka lindungi, paling tidak resikonya tidak sebesar kalau salah bertemu orang secara langsung.

Mari arahkan anak-anak untuk bisa hidup di dunia online lebih baik. Sama seperti anak kecil di Jepang, anak di Indonesia juga perlu arahan agar aman walaupun punya banyak teman online!

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru