Perubahan Aturan Magang Jepang Katanya Berikan Banyak Benefit, Emangnya Benar?
![]() |
| Aturan magang Jepang yang akan jadi Ikusei Shuro diukur lebih menguntungkan bagi peserta magang. Kredit Gambar: /Unsplash |
Banyak orang mendengar bahwa perubahan aturan magang Jepang
di 2027 akan membuat proses makin ketat. Namun, dari analisa pihak Jepang dan
berbagai lembaga pengamat human resource, ini akan datangkan banyak benefit
bagi pemagang. Kok bisa ada benefitnya kalau dibuat lebih susah?
Program Baru Bisa Tumbuhkan Harapan Baru
Program magang lama yang bernama Technical Intern Training
Program (TITIP) akan digantikan dengan program Ikusei Shuro pada 2027 besok.Program TITIP sudah lama dikritik karena membatasi pekerja untuk berpindah
kerja dan setelah selesai kontrak, tidak ada jalur mudah untuk kembali kerja ke
Jepang.
Lewat sistem baru yaitu Ikusei Shuro, pekerja asing
diharapkan punya lebih banyak fleksibilitas. Jadi, kalau merasa tidak cocok
satu perusahaan, mereka bisa pindah ke tempat lain. Hal seperti ini dapat
membantu menghindari eksploitasi pemagang di Jepang yang dipaksa bekerja di
lingkungan negatif!
Benefit Ikusei Shuro yang lainnya adalah naiknya kesempatan
berkembang ke Jalur Tokutei Ginou tanpa urusan ribet. Magang di Jepang sudah
seharusnya membawa pesertanya masuk ke dunia kerja. Kalau sebelumnya, proses
ini masih kurang transparan. Kalau saat Ikusei Shuro, arahan dari magang ke TG
menjadi tujuan utama bagi peserta magang.
Masih Ada Tantangan Dalam Implementasi Ikusei Shuro
Walaupun secara aturan baru terlihat lebih fleksibel dan
menguntungkan, di lapangan masih ada banyak hambatan yang bisa terjadi. Contoh
saja, proses administrasi magang ke Jepang tetap rumit, dan pekerja magang masih
bergantung pada perusahaan negara asal untuk berangkat.
Jadi, masalah sebelum ke Jepang berpotensi besar masih
terjadi. Contoh saja, jasa pemberangkatan magang Jepang yang meminta bayaran
besar dan dipersulit secara administrasi untuk berangkat. Hal ini tentu diluar
kontrol pihak Jepang, tapi tetap bisa terjadi.
Walaupun programnya makin bagus, posisi calon magang Jepang
tetap berpotensi masih sulit. Apalagi jika pihak Jepang tidak ikut serta
membuat jalur official yang memang membantu para calon magang tersebut.
Untuk di Indonesia misalnya, jalur official pemerintah yang
ditawarkan KEMNAKER RI dan BP2MI sudah terarah dan memudahkan para calon
magang. Sayangnya untuk jalur swasta di Indonesia, standar seperti ini belum
ada dan masih besar berpotensi jadi penghalang berat bagi calon pemagang
Jepang.
Budaya Jepang yang Masih Berpihak ke Perusahaan
Kalau dilihat dari sistemnya, Jepang masih merekrut pekerja
asing berdasarkan kebutuhan industri. Artinya, fokusnya ada di perusahaan,
bukan pada perlindungan pekerja. Jadi, walaupun ada perubahan aturan magang
Jepang, aspek ini masih tidak berubah!
Hal ini sudah lama ada di Jepang dan memang membuat proses
mengundurkan diri atau pindah kerja jadi sulit. Kesulitan ini tidak hanya
dirasakan oleh pemagang asing, tapi pekerja warga lokal Jepang juga sulit untuk
pindah perusahaan pada umumnya!
Jadi, Apakah Reformasi Ini Sudah Cukup?
Dari semua ini terlihat bahwa perubahan yang dilakukan
Jepang memang langkah maju. Namun, masih banyak hal yang perlu diperbaiki.
Perubahan aturan magang Jepang memang ditujukan selalu berkembang mengikuti
era. Jadi, tidak ada salahnya diimplementasikan dulu, evaluasi dan lakukan
perbaikan berkala.
Di satu sisi, Jepang sangat butuh pekerja asing karena
kekurangan tenaga kerja. Namun, di sisi lain, sistem yang dibuat harus
benar-benar melindungi para pemagang. Membuat dua spek ini seimbang tentu
sulit, makannya perlu proses dan perubahan-perubahan lebih banyak ke depannya!
Semoga perubahan aturan magang Jepang ini menjadi manfaat
tersendiri pada pekerja asing, terutama para WNI. Indonesia sudah banyak kerja
sama dengan Jepang soal tenaga kerja, contoh saja program magang IM Japan sudah
ada dari 1993. Diharapkan Ikusei Shuro membuat program yang lama ini menjadi
bagus dan menarik bagi pekerja Indonesia yang mau masuk ke Jepang!


