Budaya Kopi Prefektur Tottori Ternyata Nomor Satu di Jepang, Kok Bisa Prefektur Kecil InI Kalahkan Tokyo?
![]() |
| Budaya kopi prefektur Tottori memiliki banyak sejarah dan bukan sekedar trend biasa. Kredit Gambar: /Flickr |
Percayakah kamu kalau budaya kopi Prefektur Tottori adalah
yang nomor satu di Jepang? Mereka memegang rekor konsumsi kopi tertinggi, lho!
Bukan Tokyo atau Osaka, tapi ternyata status ini dimiliki Prefektur Tottori
yang konon penduduknya paling sedikit di Jepang!
Sekilas, Tottori bukan daerah yang menonjol. Populasinya
paling sedikit di Jepang, aksesnya terbatas, dan bahkan dulu belum dilewati
Shinkansen. Brand besar seperti Starbucks juga baru masuk pada 2015. Mereka
sering disebut prefektur terbaik nomor 47 di Jepang, padahal di Jepang memang
hanya ada 47 prefektur!
Walaupun begitu, di balik itu semua candaan menjelekan
Tottori, ada satu hal yang cukup mengejutkan, yaitu budaya kopi di sana adalah
yang paling elite di Jepang. Budaya kopi Prefektur Tottori sekarang tidak dipertanyakan
lagi dan dipandang yang kuat di Jepang. Inilah fakta menarik warga Tottori
Jepang!
Kalau mau lebih lengkap menguak budaya tradisional seputar kopi di Tottori, video shorts ini bisa jelaskan secara singkat buat kamu:
Kalau dilihat dari data konsumsi, Tottori pernah menempati posisi teratas secara nasional. Ini jadi salah satu fakta menarik warga Prefektur Tottori Jepang yang jarang diketahui. Mereka memegang ranking nomor 3 untuk jumlah konsumsi kopi per rumah. Satu rumah di Prefektur Tottori bisa konsumsi 3.196,4 gram per tahun. Untuk kota dengan konsumsi kopi tertinggi di Jepang, Tottori memegang nomor satu!
Catatan ini tentu unik! Daerah kecil di Jepang bisa
mengalahkan kota besar yang serba sibuk seperti Tokyo dalam hal konsumsi kopi.
Hal lain yang membuatnya unik, kebiasaan minum kopi di Tottori bukan karena
tren atau pengaruh brand besar. Namun, sudah terbentuk sejak lama sebagai
bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kalau di kota besar seperti Tokyo, trend café dan franchise
seperti Starbucks mendorong konsumsi kopi masyarakat. Kalau di Tottori
kondisinya berbeda. Sebelum kafe modern berkembang, masyarakat Tottori sudah
terbiasa menikmati kopi dengan cara sederhana. Mulai dari kopi seduh rumahan
hingga kedai klasik ala kissaten.
Saking terkenalnya kopi model tradisional Tottori, para pecinta kopi banyak yang datang ke sini. Berikut contoh video orang luar negeri menikmati kopi tradisional Tottori:
Beberapa warga Tottori bahkan ada yang beli biji kopi
sendiri untuk meningkatkan proses menikmati kopi. Fokusnya bukan pada gaya
hidup yang hanya kejar kopi mewah ataupun kreasi modern. Warga Tottori konsumsi
banyak kopi karena suka pada rasa dan kebiasaan minumnya sudah mendarah daging.
Kalau mau dibandingkan, Indonesia biasa minum teh untuk
berbagai hal. Kalau di Tottori, minuman khas mereka bukan teh tapi kopi untuk
kebiasaan sehari-hari. Kamu mau tahu mengapa bisa jadi kebiasaan seperti ini di
Tottori?
Ternyata ini berasal dari sejarah di era 1950-an. Waktu itu
terjadi kebakaran besar di Tottori yang menyebabkan sekitar 10.000 warga di
sana kehilangan tempat tinggal. Nah, untuk mengamankan warga. militer Amerika
mengirimkan bantuan berupa makanan, pakaian, P3K dan berbagai barang bantuan
darurat lainnya.
Di dalam paket bantuan itu, ada kemasan kopi instan. Paket bantuan yang terus diberikan oleh pihak Amerika sebagai bantuan selama beberapa bulan, membentuk kebiasaan warga Tottori minum kopi. Jadi, selepas bantuan ini berhenti, warga Tottori yang sudah biasa minum kopi, akhirnya mencari sumber kopi sendiri. Bisa dibilang, pengaruh Amerika sebagai pemantik budaya kopi di Tottori sangat besar!
Sejak saat itu, kopi bukan sekadar minuman. Namun juga menjadi simbol kehangatan dan penghiburan bagi warga. Setiap ada acara kumpul ataupun senggang, warga di Tottori terlihat membuat kopi sendiri di rumah dan menikmati-nya. Bahkan ada istilah kumpul untuk ngopi yang mirip Tea Party ala Inggris di sini.
![]() |
| Tampilan cafe kecil tradisional yang membuktikan budaya kopi prefektur Tottori bukan sembarangan. Kredit Gambar: Sharon Hahn/Flickr |
Dari sini terlihat kalau budaya kopi Prefektur Tottori bukan
sekadar angka konsumsi tinggi. Tapi hasil dari kebiasaan yang tumbuh secara
alami, tanpa dorongan tren. Sekarang ini menjadi keunikan daerah Tottori di
Jepang dan bahkan menjadi titik daya tarik wisata ke sana!
Makanya, kalau kamu mengira tren gaya hidup ngopi selalu
lahir dari kota besar, Tottori seakan memberi sudut pandang berbeda. Kadang,
sesuatu yang besar justru tumbuh dari tempat yang sederhana dan jarang dilihat.
Bagi kamu yang akan ke Jepang, coba kunjungi tempat ini untuk nikmati budaya
kopi Prefektur Tottori!



