Makin Terasa Masalah Buzzer Jepang di Twitter Tidak Sesuai Realitas Hidup Pada Umumnya!
![]() |
| Masalah buzzer Jepang di Twitter makin parah dan mengganggu banyak netizen yang bahas soal Jepang. Kredit Gambar: /Unsplash |
Setelah ada
fitur auto tanslate di X.com, banyak netizen global mulai sering lihat buzzer
Jepang di Twitter. Apa maksudnya buzzer Jepang? Ini sama halnya dengan di
Indonesia, banyak orang yang komentar dan posting konten untuk cari perhatian
dan mengarahkan suara politik tertentu.
Masalah Buzzer Jepang Makin Banyak di Twitter
Buzzer
Jepang di Twitter banyak yang menyuarakan anti-asing dan terlalu ekstrim
terhadap imigran di Jepang. Kamu bisa cek saja di banyak postingan Twitterbahasa Jepang yang bahas wisata asing ataupun soal pekerja asing, pasti ada si
buzzer ini!
Postingan
di sosial media dari buzzer inilah yang sering buat warga asing jadi takut
kerja ke Jepang. Banyak kok netizen WNI yang sering komentari fenomena netizen
Jepang yang serba neggatif soal orang asing.
Buzzer Bukan Refleksi Pandangan Masyarakat Jepang
Sesungguhnya!
Kalau kamu
cek realitas kehidupan Jepang, para buzzer ini hanya sebagian kecil saja.
Mereka bisa dibilang “Loud Minority”, alias kelompok kecil tapi dengan suara
paling nyaring. Di realitas kehidupan Jepang, banyak kok orang yang baik
menerima warga asing.
Contoh saja
di sekolahan kaigo Jepang. Kamu akan temukan banyak orang sana yang merasa
terbantu dengan kaigo asing. Jadi, komentar negatif netizen Jepang di Twitter
tidak sepenuhnya gambarkan dunia nyata Jepang!
Konten
orang Indonesia berinteraksi positif dengan warga Jepang juga banyak. Nih,
contohnya ada orang Indonesia yang berpisah dengan bos tempat kerja-nya sampai
ditangisi:
@daaitvindonesia Sahabat DAAI, tiga bulan mungkin terasa singkat bagi banyak orang. Namun, bagi Tia Madani, gadis asal Lampung yang menjalani masa magang di Jepang, waktu itu cukup untuk membentuk ikatan yang begitu dalam. Ia tak hanya menjadi seorang pegawai, tapi juga dianggap seperti anak perempuan sendiri oleh sosok yang membimbingnya dengan penuh kasih. Dalam video yang ia unggah melalui akun @tiamadani1, terekam momen perpisahan yang begitu mengharukan. Tia harus berpindah tempat kerja, meninggalkan bukan hanya pekeraannya, tapi juga sosok figur ayah yang selama ini menyayanginya dengan perhatian dan ketulusan. "Terima kasih, Papi, selama 3 bulan ini. Semoga bisa ketemu lagi,” tulis Tia dalam keterangan video. Diketahui, Tia adalah salah satu karyawan asal Indonesia yang begitu disayangi oleh pemimpinnya di Jepang. Tak hanya di tempat kerja, kedekatan mereka juga terlihat dalam berbagai momen ringan, termasuk saat membuat konten tren joget bersama di akunnya. Sahabat DAAI, kadang rumah bukan soal tempat tinggal, melainkan tentang orang-orang yang membuat kita merasa diterima dan disayangi. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa cinta kasih bisa tumbuh di mana saja, bahkan jauh dari rumah. Saksikan konten-konten inspiratif dan menenangkan hati di platform DAAI+ Discover Inspiring Content. #momenharu #jepang #karyawan #indonesia #sebarkankebaikan #daaitv #discoverinspiringcontent ♬ suara asli - DAAI TV Indonesia
Kalau gak
berhubungan dekat dan diterima baik, gak mungkin perpisahannya sampai berlinang
air mata begini!
Akibat
adanya sosial media yang mengangkat suara ekstrim buzzer Jepang, kita sering
lupa kalau orang Jepang itu beraneka ragam. Gak semua orang Jepang benci asing.
Mereka yang koar-koar di sosial media juga kebanyakan gak berani suarakan
pendapat sama kalau ditanya langsung face-to-face. Makanya, kamu jangan
termakan perilaku buzzer ini.
Netizen Jepang dan Asing Juga Risih dengan Postingan
Buzzer Ini!
Para
netzien global juga sudah mulai sadar soal ini. Para netizen barat juga sudah
risih dengan para buzzer Jepang di Twitter. Sampai-sampai ada akun yang
komentar begini:
Nikkei reports on a survey finding that 90% of foreign residents of Japan are satisfied with their lives.👍🇯🇵
— Jeffrey J. Hall 🇯🇵🇺🇸 (@mrjeffu) May 19, 2026
Instead of recognizing this as a sign that Japan is a great place, lots of the replies are angry & miserable Japanese who want foreigners to feel miserable too. https://t.co/2au4ZPIdle
Dari komentar itu, akun @mrjeffu mengatakan bahwa media Nikkei
sedang mengeluarkan hasil survey para WNA yang puas di Jepang. Sayangnya,
komentar pada postingan Nikkei tersebut mala diwarnai buzzer. Image Jepang yang
di sukai warga asing harusnya jadi berita positif, eh malah jadi sumber
teriak-teriak anti asing…
Pandangan akun @mrjeffu ini juga disetujui oleh netizen Jepang
yang tidak terlalu ekstrim pandangannya. Contoh saja postingan berikut:
外国人に「日本での生活は素晴らしい」と言われたら、普通は誇りに思うものだろう。(入管庁の調査なのでどこまで本音かはわからないが)
— WIND VILLA (@WindVilla) May 19, 2026
なのにリプ欄には、「日本人は不幸なのに」的な自己憐憫や、「俺たちの税金で良い思いしやがって」的な見当違いの八つ当たりが並んでいる。… https://t.co/XiOLqBuK9G
Akun @WindVilla ini mengatakan kalau orang asing suka di
Jepang dan diberitakan, harusnya orang Jepang bangga. Ia merasa kalau ada
bahasa tentang orang asing di postingan Twitter, para buzzer ini langsung
muncul merusak suasana dengan pandangan ekstrim mereka.
Orang Jepang sendiri ada yang muak dengan buzzer tersebut.
Contoh saja pada komentar netizen Jepang ini pada postingan survey Nikkei:
外国人憎悪を煽る器量の狭い馬鹿リプばっかじゃねーか、情けね。
— TAKE4 (@TAKE4T53739) May 19, 2026
Netizen itu berkata banyak komentar buzzer yang asbun dan
terlalu benci orang asing terasa memalukan. Di survey yang harusnya mengangkat
nama Jepang, eh malah dikomentari hal-hal negatif yang menjatuhkan nama orang
Jepang di mata orang asing.
Jangan Terlalu Percaya Sosmed di Era Algorithm Sekarang!
Untungnya, hal seperti ini hanya ada di Twitter. Komentar
negatif netizen Jepang terlihat besar di platform ini karena algorithmyang
mempromosikan drama dan postingan yang pancing emosi.
Kalau kamu bertemu orang Jepang secara langsung, jarang yang
bersikap seperti buzzer di Twitter. Makanya, jangan mudah percaya dengan
postingan negatif dan ekstrim dari netizen Jepang. Besar kemungkinan mereka
adalah buzzer Jepang di Twitter!


