Banyak Istri di Jepang Ternyata Tidak Puas dengan Suami Soal Pekerjaan Rumah, Kenapa Bisa Begitu?
![]() |
| Ternyata banyak istri di Jepang kurang puas dengan pembagian tugas di rumah dengan suami. Kredit Gambar: /Unsplash |
Kalau mendengar kehidupan di Jepang, banyak orang masih membayangkan suami bekerja di kantor sementara istri mengurus rumah. Sayangnya, fakta modern di lapangan sangat berbeda!
Jumlah keluarga dengan suami dan istri yang
sama-sama bekerja terus meningkat. Saat ini, rumah tangga dual income di Jepang
sudah mencapai sekitar 13 juta keluarga. Di tengah biaya hidup yang terus naik,
banyak keluarga memang membutuhkan dua sumber penghasilan.
Masalahnya, pembagian pekerjaan rumah ternyata
tidak berubah secepat perubahan pola kerja tersebut.
Hasil Data
Survey Istri Jepang Tunjukan
Permasalahan yang Sama
Sebuah data survey istri Jepang menunjukkan
bahwa lebih dari setengah responden merasa tidak puas dengan kontribusi suami
dalam urusan rumah tangga.
Menariknya, sebagian besar istri di Jepang yang menyampaikan
keluhan tersebut juga bekerja dan ikut membantu pemasukan keluarga. Artinya, banyak
perempuan merasa harus menjalani dua pekerjaan sekaligus.
Pertama harus urus
pekerjaan di kantor, kedua adalah pekerjaan rumah tangan. Kalau diukur, seorang
istri di Jepang dalam golongan dual income gak punya waktu istirahat yang
cukup!
Masalah Umum Rumah Tangga Jepang yang Makin
Marak Ditemukan
Kalau melihat pembagian tugas sehari-hari,
suami Jepang memang mulai ikut membantu pekerjaan rumah. Namun, tugas yang paling
sering mereka lakukan biasanya hanya membuang sampah dan mencuci piring.
Sementara itu, memasak, mencuci pakaian,
membersihkan rumah, mengurus anak, hingga mengatur kebutuhan keluarga masih
lebih banyak dilakukan oleh istri di Jepang.
Data OECD menunjukkan perempuan Jepang
menghabiskan sekitar 224 menit per hari untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan
tanpa bayaran.
Sebaliknya, laki-laki Jepang hanya sekitar 41
menit per hari. Artinya, perempuan menghabiskan waktu lebih dari lima kali lipat
dibanding laki-laki untuk urusan rumah tangga.
Tidak heran jika kondisi ini sering disebut
sebagai salah satu masalah umum rumah tangga Jepang yang masih sulit
diselesaikan selain perselingkuhan.
Dampak
Ketidak Seimbangan Peran Gak Sekadar Soal Pekerjaan Rumah
Banyak orang menganggap persoalan ini hanya
soal siapa yang mencuci piring atau menyapu rumah. Namun, dampaknya ternyata
jauh lebih besar.
Para peneliti menemukan bahwa ketimpangan
pekerjaan rumah bisa memengaruhi kesehatan mental, kualitas tidur, hubungan suami istri, bahkan keputusan pasangan untuk memiliki anak. Karena itu, topik
ini terus menjadi bahan diskusi di Jepang.
Saat suami istri saja
saling menyalahkan dan tidak mau bekerja sama membentuk keluarga harmonis,
pasti imbasnya jadi ke mana-mana. Gak cuma relasi suami istri, tapi pengaruh ke
sosial, keluarga besar dan bahkan lingkungan juga bisa terjadi!
Contoh saja, saat
tetangga mendengar keluarga bertengkar keras, pasti jadi gak nyaman juga dong
lingkungannya!
Sebenarnya Budaya Ini di Jepang Mulai Berubah Perlahan
Kabar baiknya, perubahan masalah umum rumah tangga Jepang ini mulai
terlihat. Generasi muda Jepang cenderung lebih terbuka
terhadap pembagian tugas rumah tangga yang seimbang. Pemerintah juga mulai
mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak melalui berbagai program
sosial.
Namun, perubahan budaya tentu tidak bisa
terjadi dalam semalam. Kalau dipikir-pikir, apa yang dialami para istri di Jepang sebenarnya tidak jauh
berbeda dengan yang terjadi di banyak negara lain, termasuk Indonesia.
Ketika para suami dan istri di Jepang sama-sama bekerja tapi mau kompormi dan bagi tugas di rumah,
pasti kehidupan keluarga bisa harmonis. Semoga kedepannya, kondisi bagi tugas
di keluarga Jepang ini membaik dan bisa hasilkan keharmonisan lebih baik!


