Bekerja Pertanian di Jepang Katanya Harus Sering Pindah Lokasi, Apakah Hal Ini Benar?
![]() |
| Bekerja pertanian di Jepang harus pindah lokasi karena pengaruh musim dan aturan perusahaan. Kredit Gambar: /Unsplash |
Bagi yang tertarik bekerja pertanian di Jepang, kamu akan dengar kabar kalau tempat jobnya sering berpindah. Banyak yang bilang perpindahan ini karena posisi kerjanya mirip buruh tani yang harus garap lahan banyak perusahaan. Apakah ini benar?
Sekilas memang terdengar masuk
akal. Namun faktanya, tidak semua orang yang bekerja pertanian di Jepang akan
menjalani sistem seperti itu.
Ada pekerja yang memang berpindah
lokasi, tetapi ada juga yang tetap bekerja di satu daerah selama masa
kontraknya. Perbedaannya bukan ditentukan oleh program kerja yang diikuti,
melainkan oleh sistem yang diterapkan masing-masing perusahaan pertanian
Jepang.
Biar lebih paham, mari gali
bersama aspek unik pekerjaan pertanian di Jepang ini!
Pertanian di Jepang Sangat Dipengaruhi Musim
Pekerjaan di sektor pertanian
berbeda dengan pabrik yang cenderung memiliki aktivitas serupa sepanjang tahun.
Di Jepang, hampir semua pekerjaan
pertanian mengikuti siklus tanaman. Setiap komoditas memiliki waktu tanam dan
musim panen di Jepang yang berbeda. Ada stroberi, apel, anggur, kentang,
bawang, hingga asparagus yang dipanen pada waktu yang tidak sama.
Itulah sebabnya kebutuhan tenaga
kerja juga berubah mengikuti musim. Saat panen tiba, perusahaan biasanya
membutuhkan lebih banyak pekerja dibandingkan saat masa perawatan tanaman.
Kenapa Ada Pekerja yang Dipindahkan ke Daerah Lain?
Nah, di sinilah banyak orang
sering salah paham. Beberapa perusahaan pertanian Jepang memiliki lahan di
lebih dari satu prefektur. Ketika panen di satu daerah selesai, pekerja bisa
dipindahkan ke lahan lain yang baru memasuki musim panen.
Perpindahan ini bukan berarti
pindah perusahaan. Kamu tetap bekerja untuk perusahaan yang sama, hanya lokasi
kerjanya yang berubah agar pekerjaan tetap tersedia sepanjang tahun.
Tidak Semua Job Pertanian Mengharuskan Pindah Tempat
Meski begitu, banyak juga
perusahaan yang hanya memiliki satu lokasi pertanian. Kalau bekerja di tempat
seperti ini, biasanya kamu tetap tinggal di daerah yang sama sampai kontrak
selesai. Yang berubah hanyalah jenis pekerjaannya.
Saat awal musim kamu bisa membantu
menanam bibit, kemudian beralih ke penyiraman dan perawatan tanaman. Ketika
panen tiba, pekerjaan berubah menjadi memanen, menyortir, hingga mengemas hasil
pertanian. Jadi, berganti musim belum tentu berarti harus berganti kota.
Bagaimana Saat Musim Dingin?
Banyak calon pekerja mengira
aktivitas pertanian akan berhenti ketika musim dingin datang. Padahal tidak
selalu seperti itu. Sebagian perusahaan memiliki greenhouse sehingga tetap bisa
menanam stroberi, tomat, atau paprika sepanjang tahun.
Ada juga perusahaan yang
memindahkan pekerja ke daerah yang lebih hangat atau mengalihkan pekerjaan ke
proses sortir, pengemasan, hingga perawatan fasilitas pertanian. Maka dari itu,
bekerja pertanian di Jepang tetap bisa berlangsung meski musim terus berganti.
Apa Artinya Bagi Calon Pekerja dari Indonesia?
Kalau nanti kamu mendapatkan
lowongan job pertanian, jangan langsung menganggap pasti harus berpindah-pindah
daerah.
Coba cari tahu lebih dulu sistem
kerja perusahaan yang akan menerimamu. Informasi seperti ini biasanya sudah
dijelaskan saat proses penempatan atau tercantum di dalam kontrak kerja.
Semakin memahami cara kerja
perusahaan sejak awal, semakin mudah juga kamu beradaptasi ketika sudah tiba di
Jepang.
Memahami Kondisi Kerja Sejak Awal Akan Membuatmu Lebih
Siap
Sektor pertanian masih menjadi
salah satu bidang yang banyak membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia.
Namun karakter pekerjaannya memang berbeda dengan sektor lain karena sangat
dipengaruhi oleh musim.
Itulah mengapa penting memahami
bagaimana sistem perusahaan pertanian Jepang sebelum berangkat. Dengan bekal
informasi yang tepat, kamu tidak hanya lebih siap menghadapi dunia kerja,
tetapi juga bisa menjalani bekerja pertanian di Jepang dengan ekspektasi yang lebih realistis.


