Festival Orang-Orangan Sawah di Jepang, Tradisi Unik yang Ternyata Punya Misi Menyelamatkan Desa

 

Tampilan festival orang-orangan sawah di Jepang yang terkesan unik dan menarik wisatawan!
Kredit Gambar: /Flickr

Kalau mendengar festival orang-orangan sawah di Jepang, mungkin yang terbayang hanya deretan boneka jerami yang dipasang di tengah sawah. Padahal di balik acara sederhana ini, ada cerita yang jauh lebih menarik.

Festival tersebut menjadi salah satu cara masyarakat Jepang menjaga sawah terasering, melestarikan tradisi, sekaligus mengajak lebih banyak orang peduli pada kehidupan pedesaan yang kini menghadapi tantangan besar. Kalau mau kenal lebih dekat soal festivalnya, yuk bahas di sini!

Festival yang Lahir untuk Menjaga Sawah Terasering

Acara ini digelar di Maruyama Senmaida, Kota Kumano, Prefektur Mie. Meski sering dianggap sebagai perayaan tradisional unik di Jepang, tujuan utamanya bukan sekadar menarik wisatawan, melainkan menjaga warisan pertanian yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Maruyama Senmaida memiliki sekitar 1.340 petak sawah terasering yang menjadi salah satu lanskap pertanian paling terkenal di Jepang. Namun, kawasan ini pernah mengalami penurunan drastis akibat urbanisasi, berkurangnya jumlah petani, dan banyak lahan yang ditinggalkan.

Untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut, pemerintah daerah bersama masyarakat menjalankan berbagai program pelestarian. Salah satunya adalah festival pembuatan orang-orangan sawah yang kini rutin diadakan setiap musim panas. Kamu bisa lihat kalau Kota Kumano memang berdedikasi menjaga festival seputar sawah tetap hidup!

Nih ada video keluarga di Jepang mengikuti festival membuat orang-orangan sawah ini:

Siapa Saja yang Membuat Orang-Orangan Sawah?

Hal yang membuat festival orang-orangan sawah di Jepang ini berbeda adalah pesertanya tidak hanya berasal dari warga setempat.

Maruyama Senmaida memiliki program Owner System, yaitu siapa pun bisa memiliki status sebagai pemilik khusus sebidang sawah dengan membayar biaya tahunan. Mereka kemudian diajak ikut menanam padi, membuat orang-orangan sawah, hingga panen bersama. Cara ini membuat masyarakat kota ikut merasakan kehidupan desa dan membantu menjaga sawah tetap produktif.

Orang-Orangan Sawah Masih Punya Fungsi

Di era teknologi modern, orang-orangan sawah memang bukan lagi alat utama untuk mengusir burung. Namun keberadaannya masih membantu mengurangi gangguan satwa liar sekaligus menjadi simbol pertanian tradisional Jepang.

Setiap tahun bahkan diadakan kontes desain orang-orangan sawah. Hasil karya peserta dipajang di area persawahan hingga musim panen sehingga membuat pemandangan sawah menjadi semakin menarik.

Bagian dari Tradisi Pertanian Sepanjang Tahun

Festival ini bukan acara yang berdiri sendiri. Kegiatannya menjadi bagian dari rangkaian musim tanam di Maruyama Senmaida.

Setelah penanaman padi pada bulan Mei dan upacara tradisional Mushi Okuri pada Juni, masyarakat berkumpul membuat orang-orangan sawah pada Juli. Kemudian, seluruh rangkaian ditutup dengan panen bersama saat musim gugur tiba.

Lebih dari Festival, Ini Cara Jepang Menjaga Desa Tetap Hidup

Media Jepang tidak meliput acara ini hanya karena bentuk orang-orangan sawahnya yang unik. Pesan yang ingin disampaikan jauh lebih besar, yaitu bagaimana masyarakat bersama-sama menjaga desa agar tidak ditinggalkan.

Di tengah berkurangnya jumlah petani dan meningkatnya lahan pertanian yang terbengkalai, festival orang-orangan sawah di Jepang menjadi contoh bahwa tradisi bisa dipadukan dengan partisipasi masyarakat untuk menjaga pedesaan tetap hidup. Inilah yang membuat acara sederhana tersebut terus menjadi salah satu perayaan tradisional unik di Jepang yang menarik perhatian hingga sekarang.

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru