Gerakan Modernisasi Ryokan di Jepang Dilakukan Demi Datangkan Wisatawan Asing, Jadi Hotel Biasa Dong?

 

Usaha modernisasi Ryokan di Jepang dilakukan demi adaptasi dan menarik wisatawan asing.
Kredit Gambar: Wikipedia

Kabar bahwa modernisasi Ryokan di Jepang mulai populer untuk mengincari wisatawan asing mendatangkan rasa kawatir. Masalahnya, banyak wisatawan yang suka menginap di Ryokan memilih menginap di sana karena sensasi tradisionalnya!

Kalau Ryokan Jepang jadi modern, bedanya dengan hotel wisata apa? Soalnya di Jepang banyak hotel yang menawarkan layanan tradisional Jepang tapi dengan nuansa lebih modern dan terstandar internasional…

Ternyata gerakan modernisasi Ryokan di Jepang masih dalam proses uji coba. Para pemilik Ryokan ingin mempertahankan sensasi tradisional tapi tetap tawarkan layanan modern juga!

Ryokan Biasa Diisi Orang Jepang, Kini Wisatawan Asing Jadi Target Utama

Ryokan sudah ada sejak zaman Edo sebagai tempat beristirahat para pelancong yang bepergian antarwilayah di Jepang. Selama ratusan tahun, konsepnya dirancang mengikuti kebiasaan masyarakat Jepang, bukan wisatawan mancanegara.

Namun, setelah pandemi, jumlah turis asing meningkat pesat. Banyak pemilik Ryokan mengaku pertumbuhan bisnis mereka kini lebih bergantung pada tamu internasional.

Perubahan pasar inilah yang membuat modernisasi Ryokan di Jepang mulai dilakukan agar lebih mudah dinikmati pengunjung dari berbagai negara. Wisatawan internasional tentu gak mau ribet soal penginapan, jadi sebisa mungkin Ryokan tradisional akan menyediakan beberapa layanan yang biasa dicari para wisatawan asing tersebut.

Mengapa Banyak Wisatawan Asing Merasa Sulit Menginap di Ryokan Tradisional?

Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Jepang, menginap di Ryokan sering menghadirkan culture shock. Jadwal makan biasanya sudah ditentukan, menu tidak bisa dipilih sesuka hati, futon baru dipasang saat malam, hingga aturan mandi di onsen yang harus dipatuhi.

Ryokan di Jepang punya aturan ketat soal penggunaan onsen karena menggunakan tradisi lama.
Kredit Gambar: Wikipedia

Belum lagi masih ada Ryokan yang memiliki staf dengan kemampuan bahasa Inggris terbatas. Sebenarnya bukan karena budayanya sulit, tetapi banyak tamu asing memang belum terbiasa dengan cara menginap ala Jepang.

Selain itu, wisatawan internasional ingin pelayanan yang disesuaikan kebutuhan mereka. Contoh saja menu makanan yang vegetarian. Kalau wisatawan asing gak dapat layanan khusus seperti ini, mereka biasanya tidak mau menginap di Ryokan.

Modernisasi Ryokan Bukan Berarti Menghilangkan Budaya Jepang

Perubahan yang dilakukan ternyata lebih banyak menyentuh sisi pelayanan. Kini beberapa Ryokan menyediakan restoran sebagai alternatif makan di kamar, pilihan menu vegetarian, staf bilingual, lounge yang lebih nyaman, layanan spa, hingga waktu check in yang lebih fleksibel.

Para pemilik Ryokan masih berusaha identitas utama Ryokan tetap dipertahankan walaupun dengan proses modernisasi ini. Contoh saja, tatami masih menjadi lantai utama kamar, tamu tetap mengenakan yukata, menikmati onsen, mencicipi hidangan kaiseki, dan merasakan omotenashi atau keramahan khas Jepang.

Pembaharuan Ryokan Sedang Pada Tahapan Uji Coba

Para pemilik Ryokan saat ini masih berjalan buta. Mereka tidak tahu bentuk modernisasi yang paling tepat dan terstandar untuk datangkan wisatawan asing. Ada yang fokus pada astetik, fungsionalitas ataupun dari segi layanan.

Akibatnya, banyak langkah yang terasa kurang pas dari para pengamat penginapan di Jepang. Contoh saja, ditemukan beberapa Ryokan mulai memiliki interior yang terlalu bergaya Barat hingga kamar-kamarnya terlihat seperti hotel internasional.

Contoh Ryokan di Jepang dengan sentuhan modern yang bahkan sediakan Starbucks di lantai satu.
Kredit Gambar: Wikipedia

Kalau semuanya dibuat menyerupai hotel modern, lalu apa yang membedakan Ryokan? Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi.

Beberapa pemilik Ryokan tapi ada yang sudah merasakan benefit modernisasi dengan menambah fasilitas serta layanan Ryokan agar sesuai dengan audience Internasional. Contoh saja menambah akses bar kecil atapun layanan sewa pakaian tradisional Jepang dan bahkan kelas belajar upacara minum teh Jepang.

Ryokan Kini Tidak Lagi Menjual Kamar, Tapi Menjual Pengalaman Unik Jepang

Strategi Ryokan pun ikut berubah. Kalau dulu fokusnya hanya menyediakan tempat menginap, sekarang banyak Ryokan menawarkan pengalaman budaya Jepang yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tamu bisa mengikuti upacara minum teh, membuat wagashi, bertani bersama warga lokal, panen padi, meditasi di kuil, melihat pengrajin tradisional bekerja, hingga menikmati onsen privat. Bahkan Gora Kadan Fuji mulai menawarkan pengalaman mengenal kehidupan pedesaan dan aktivitas pertanian sebagai bagian dari paket menginap.

Masa Depan Ryokan Bergantung Pada Kemampuan Adaptasi

Ryokan sebenarnya tidak sedang bersaing dengan hotel berbintang. Mereka bersaing di industri pengalaman wisata. Wisatawan asing rela membayar lebih mahal karena ingin merasakan kehidupan Jepang yang autentik, bukan sekadar mendapatkan kamar yang nyaman.

Makanya, modernisasi Ryokan di Jepang bukan berarti membuat semuanya menjadi lebih Barat. Tradisi tradisional yang ingin dijual tetap harus disesuaikan pasar tanpa menghilangkan keunikannya. Hal inilah yang masih harus dihadapi para pemilik Ryokan di Jepang!

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru