Korban Panas Ekstrim di Jepang Tembus 10.000 Orang Hanya dalam Sepekan, Kok Serem?
![]() |
| Bertambahnya korban panas ekstrim di Jepang sangat menghawatirkan seminggu terakhir ini. Kredit Gambar: /Unsplash |
Korban panas ekstrim di Jepang terus bertambah seiring gelombang panas yang melanda berbagai wilayah pada pertengahan Juli 2026. Baru berjalan
sekitar satu minggu, cuaca yang sangat panas sudah membuat lebih dari 10 ribu
orang dilarikan ke rumah sakit akibat heatstroke.
Data terbaru ini menjadi pengingat bahwa musim panas di
Jepang bukan sekadar terasa tidak nyaman. Dalam kondisi tertentu, suhu tinggi
dapat berubah menjadi ancaman serius bagi kesehatan, terutama bagi lansia dan
kelompok rentan lainnya.
Lebih dari 10 Ribu Orang Masuk Rumah Sakit dalam Sepekan
Badan Fire and Disaster Management Agency Jepang mencatat
sebanyak 10.857 orang dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans akibat
heatstroke selama periode 13 hingga 19 Juli 2026.
Angka tersebut menjadi yang pertama menembus 10.000 kasus
dalam satu minggu sejak pemantauan musim panas dimulai pada 1 Mei. Dibanding
pekan sebelumnya yang mencatat 4.580 pasien, jumlah ini meningkat sekitar 2,4
kali lipat. Bahkan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah
pasien juga meningkat lebih dari dua kali lipat.
Data tersebut menunjukkan bahwa masalah heatstroke di Jepang
berkembang sangat cepat hanya dalam hitungan beberapa hari ketika suhu udara
mulai melonjak.
Lansia Menjadi Korban Terbanyak
Kelompok usia lanjut kembali menjadi pihak yang paling
terdampak. Sebanyak 6.734 pasien, atau sekitar 62 persen dari seluruh korban,
merupakan warga berusia 65 tahun ke atas. Selain itu, 14 orang meninggal dunia,
sementara 321 pasien mengalami kondisi serius yang diperkirakan membutuhkan
perawatan lebih dari tiga minggu.
Sisanya terdiri dari sekitar 37 persen pasien dengan gejala
sedang dan hampir 59 persen mengalami gejala ringan. Data ini memperlihatkan
bahwa lansia menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi suhu ekstrem di
Jepang.
Ternyata Heatstroke Paling Banyak Terjadi di Dalam Rumah
Banyak orang mengira heatstroke hanya terjadi saat
beraktivitas di luar ruangan. Namun faktanya justru berbeda.
Sebanyak 4.523 kasus terjadi di dalam rumah. Angka tersebut
lebih tinggi dibanding 2.326 kasus yang terjadi di jalan raya maupun 1.095
kasus di ruang publik terbuka.
Kondisi ini menunjukkan bahwa rumah tanpa pendingin udara
atau ventilasi yang memadai tetap berisiko menyebabkan heatstroke, terutama
bagi lansia yang tinggal sendirian.
Osaka dan Tokyo Jadi Wilayah dengan Kasus Tinggi
Dari sisi wilayah, Osaka mencatat jumlah pasien terbanyak
dengan 1.041 orang, disusul Aichi sebanyak 797 orang dan Tokyo sebanyak 783
orang. Khusus di Tokyo, jumlah pasien meningkat lebih dari dua kali lipat
dibanding periode yang sama tahun lalu. Bahkan dalam satu hari saja, 453 orang
harus dilarikan ke rumah sakit akibat heatstroke.
Sementara itu, beberapa wilayah di Jepang mencatat suhu di
atas 40 derajat Celsius selama tiga hari berturut-turut. Kota Hamamatsu,
Prefektur Shizuoka, bahkan mencapai 41,1 derajat Celsius, menjadi suhu
tertinggi yang tercatat di Jepang sepanjang 2026.
WNI di Jepang Perlu Lebih Waspada
Melihat cepatnya peningkatan korban panas ekstrim di Jepang,
pemerintah terus mengimbau masyarakat agar tidak meremehkan kondisi musim panas
di Jepang tahun ini.
Masyarakat diminta tetap berada di ruangan ber-AC saat
memungkinkan, mengurangi aktivitas di luar rumah pada siang hari, serta minum
air sebelum merasa haus.
Bagi WNI yang sedang bekerja, magang, maupun belajar di
Jepang, menjaga kondisi tubuh selama musim panas sama pentingnya dengan menjaga
keselamatan saat bekerja. Cuaca panas ekstrem bisa datang tiba-tiba, dan dalam
waktu singkat berubah menjadi ancaman kesehatan yang serius.


