Cuaca Panas di Jepang Bikin Banyak Orang Malu Aktivitas Karena Keringat, Emang Pada Bau?
![]() |
| Masalah keringat karena cuaca panas di Jepang mengakibatkan banyak orang Jepang hentikan aktivitas. Kredit Gambar: /Unsplash |
Cuaca panas di Jepang ternyata bukan hanya membuat orang merasa gerah. Bagi sebagian masyarakat, panas dan masalah keringat bahkan bisa
memengaruhi cara mereka menjalani aktivitas sehari-hari.
Hal ini terlihat dari survei gabungan yang dilakukan tiga
perusahaan farmasi Jepang. Dari 9.459 responden berusia 15 hingga 59 tahun,
sebanyak 4.767 orang mengaku merasa khawatir dengan keringat.
Hal yang menarik, 58% dari mereka mengatakan pernah berhenti
melakukan aktivitas tertentu karena masalah panas dan berkeringat tersebut.
Ada Orang Sampai Tidak Mau Memakai Pakaian Favorit
Apa yang membuat keringat begitu mengganggu? Jawaban paling
banyak ternyata cukup sederhana. Sebanyak 27% responden mengatakan mereka
pernah berhenti mengenakan pakaian yang sebenarnya mereka sukai karena khawatir
dengan keringat.
Bagi sebagian orang, keringat berlebihan bukan hanya
persoalan kenyamanan. Kondisi tersebut juga bisa membuat mereka merasa tidak
percaya diri ketika berada di sekitar orang lain. Masalah penampilan dan bau
adalah yang utama.
Sebanyak 20% responden bahkan mengaku memilih menghindari
mendekati orang lain karena khawatir dengan kondisi keringat mereka. Sementara
itu, 16% lainnya memilih tidak keluar rumah pada siang hari atau menghindari
perjalanan dalam waktu lama.
Kegiatan Musim Panas Jadi Ikut Berubah Hanya Karena
Berkeringat
Kondisi ini tentu menarik jika dikaitkan dengan kegiatan
musim panas orang Jepang. Musim panas biasanya menjadi waktu bagi masyarakat
untuk bepergian, menikmati berbagai kegiatan luar ruangan, hingga menghabiskan
waktu bersama keluarga dan teman.
Namun, bagi orang yang sangat terganggu oleh keringat,
aktivitas tersebut justru bisa terasa merepotkan. Pertama tentu karena keringat
yang ganggu penampilan. Kedua adalah keringat yang membuat kondisi badan tidak
nyaman. Ketiga adalah tubuh yang kehilangan cairan lewat keringat akan terasa
lemas dan kurang bertenaga.
Survei juga menunjukkan bahwa 66% responden menganggap
keringat sebagai sesuatu yang kotor atau tidak higienis. Bahkan, 65% merasa
kondisi keringat mereka dapat mengganggu orang lain. Artinya, persoalan
keringat bukan hanya berkaitan dengan suhu tubuh. Ada juga rasa khawatir
terhadap bagaimana orang lain melihat kondisi tersebut.
Banyak Orang Jepang yang Akhirnya Pasrah
Menariknya, meskipun merasa terganggu, 69% responden
mengatakan tidak akan mencari bantuan. Sebanyak 19% menganggap berkeringat
merupakan kondisi fisik yang harus diterima. Persentase yang sama juga merasa
masalah tersebut tidak bisa diselesaikan.
Selain itu, 48% responden merasa ragu untuk berkonsultasi ke
fasilitas kesehatan. Salah satu alasan yang muncul adalah kekhawatiran mengenai
biaya pengobatan. Padahal, ketika cuaca panas di Jepang semakin terasa berat,
persoalan keringat juga bisa ikut memengaruhi aktivitas dan kenyamanan
seseorang.
Solusi keringat sebenarnya ada banyak di Jepang. Namun,
sebagian besar merepotkan. Misal saja, pakai jaket AC, pakai cooling strip dan
kipas portable. Sayangnya, semua ini sering tidak digunakan karena merasa malu
terlihat pakai alat menangani keringat tersebut.
Perlu diingat kalau kondisi berkeringat mudah muncul selama
beraktivitas di musim panas. Panas yang ekstrem juga bisa membuat aktivitas
sehari-hari berubah. Bagi WNI yang sudah baca artikel ini, pastikan kalian bisa
hadapi masalahnya.
Lakukan persiapan hadapi cuaca panas di Jepang dan konsekuensi
lainnya seperti keringat dan ancaman heat stroke. Jika sudah siap dari awal,
pasti bisa mencegah masalahnya berpengaruh ke pekerjaan.


