Kebutuhan Tenaga Kerja Pertanian di Jepang Makin Mendesak, Bisa Jadi Peluang WNA Buat Isi Nih?
![]() |
| Kebutuhan tenaga kerja pertanian di Jepang makin genting, ini jadi kesempatan pekerja asing tentunya! Kredit Gambar: /Unsplash |
Kebutuhan tenaga kerja pertanian di Jepang kini menjadi
salah satu tantangan terbesar yang dihadapi negeri tersebut. Di balik citra
Jepang sebagai negara dengan teknologi pertanian yang maju, ternyata jumlah
orang yang benar-benar bekerja sebagai petani terus menyusut setiap tahun.
Bahkan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, jumlah petani inti di Jepang turun
hingga di bawah satu juta orang.
Data terbaru dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan Jepang (MAFF) menunjukkan bahwa pada 2026 jumlah core agricultural
workers atau petani yang menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian utama
tinggal 986.600 orang.
Angka ini turun sekitar 4,8% dibanding tahun sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan tahun 2010 yang masih mencapai sekitar 2,05 juta
orang, jumlahnya telah menyusut lebih dari separuh.
Petani Jepang Didominasi Lansia
Penurunan jumlah petani bukan sekadar soal angka. Masalah
yang lebih serius adalah usia para pekerjanya. Soalnya, kebanyakan pekerja di
pertanian masuk golongan tua soalnya!
Rata-rata usia petani inti di Jepang kini mencapai 67,7
tahun. Bahkan, sekitar 56,5% di antaranya telah berusia 70 tahun ke atas.
Sebaliknya, petani berusia di bawah 30 tahun hanya sekitar 1,2%, sedangkan
kelompok usia 30-an hanya 3,8%. Artinya, generasi muda yang memilih bertani
jumlahnya sangat sedikit.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan gelombang pensiun
dalam beberapa tahun ke depan. Jika tidak ada regenerasi yang cukup, kapasitas
produksi pangan domestik Jepang bisa semakin tertekan.
Perusahaan Pertanian Mulai Mengambil Peran
Di tengah krisis tersebut, struktur pertanian Jepang juga
mengalami perubahan. Jumlah usaha pertanian keluarga terus menurun, sementara
perusahaan pertanian justru bertambah. Rata-rata luas lahan yang dikelola
setiap unit usaha kini mencapai 3,8 hektare, bahkan di Hokkaido rata-ratanya
mencapai 34,6 hektare.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lahan milik petani kecil mulai
dikonsolidasikan dan dikelola oleh usaha yang lebih besar agar tetap produktif.
Di saat yang sama, kebutuhan tenaga kerja pertanian di Jepang semakin
meningkat. Perusahaan pertanian membutuhkan lebih banyak pekerja untuk
mengelola lahan yang terus bertambah luas, sementara jumlah petani lokal justru
terus berkurang.
Peluang Besar bagi Tenaga Kerja Asing
Melihat kondisi tersebut, Jepang tidak hanya mengandalkan
mekanisasi dan teknologi seperti drone, robot, serta traktor otonom. Pemerintah
juga terus membuka ruang bagi pekerja dari luar negeri untuk membantu menjaga
keberlangsungan sektor pertanian.
Inilah yang membuat peluang kerja tenaga asing di pertanian
Jepang semakin terbuka. Melalui berbagai skema seperti Specified Skilled Worker (SSW) maupun program lainnya, tenaga kerja asing kini menjadi bagian penting
dalam memenuhi kebutuhan sektor pertanian yang mengalami kekurangan pekerja.
Meski demikian, masuknya pekerja asing bukan berarti
menggantikan petani Jepang. Sebaliknya, mereka menjadi pelengkap agar produksi
pangan tetap berjalan di tengah krisis tenaga kerja di Jepang yang dipicu oleh
penuaan penduduk dan minimnya regenerasi petani muda.
Ke depan, kombinasi antara teknologi modern, konsolidasi
lahan, dan kontribusi tenaga kerja asing diperkirakan akan menjadi kunci
keberlangsungan sektor pertanian Jepang. Dengan kondisi tersebut, kebutuhan
tenaga kerja pertanian di Jepang bukan lagi sekadar isu jangka pendek,
melainkan tantangan besar yang akan terus membentuk arah kebijakan pertanian
Jepang di masa depan.


