Permintaan Passport di Jepang Meningkat, Apakah Orang Jepang Makin Tertarik ke Luar Negeri?
![]() |
| Peningkatan permintaan passport di Jeang menunjukan kenaikan ketertarikan orang sana untuk ke luar negeri. Kredit Gambar: Wikipedia |
Permintaan passport di Jepang meningkat cukup tajam setelah
pemerintah menurunkan biaya pembuatan paspor mulai Juli 2026. Dalam satu bulan,
jumlah permohonan bahkan mencapai sekitar 530.000, atau sekitar 1,6 kali lipat
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, apakah angka tersebut berarti orang Jepang sekarang
semakin ingin bepergian ke luar negeri? Jawabannya cukup menarik. Kenaikan
aplikasi memang dipengaruhi langsung oleh harga paspor yang lebih murah, tetapi
data perjalanan menunjukkan minat masyarakat Jepang terhadap wisata luar negeri
juga sedang mengalami peningkatan.
Biaya Paspor Turun, Permohonan Langsung Melonjak
Mulai 1 Juli 2026, pemerintah Jepang memangkas biaya paspor
10 tahun untuk warga berusia 18 tahun ke atas yang mengajukan secara online
dari ¥15.900 menjadi ¥8.900. Pemerintah sejak awal sudah memperkirakan
kebijakan ini akan membuat jumlah permohonan meningkat tajam.
Hasilnya terlihat jelas. Pada Juli 2026, sekitar 530.000
permohonan paspor tercatat di Jepang. Bahkan dalam tiga hari pertama Juli,
permohonan mencapai sekitar 3,3 kali dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya.
Jadi, permintaan passport di Jepang meningkat bukan
semata-mata karena masyarakat tiba-tiba ingin bepergian. Harga yang turun
hampir setengahnya membuat lebih banyak orang merasa memiliki paspor adalah
sesuatu yang layak dilakukan. Namun ada fakta lain yang tidak kalah menarik.
Orang Jepang Tertarik ke Luar Negeri Mulai Meningkat
Survei JTB menunjukkan bahwa orang Jepang tertarik ke luar
negeri semakin besar. Untuk 2026, sekitar 23% responden mengatakan mereka
berencana melakukan perjalanan luar negeri, naik 2 poin persentase dibandingkan
tahun sebelumnya. JTB juga memperkirakan jumlah perjalanan luar negeri warga
Jepang mencapai sekitar 15,5 juta orang sepanjang 2026, naik 2,6%.
Kenaikan ini belum bisa disebut sebagai ledakan wisata luar
negeri. Nilai tukar yen yang lemah dan mahalnya biaya perjalanan masih menjadi
pertimbangan. Namun arahnya sudah terlihat. Setelah pandemi berlalu, masyarakat
Jepang perlahan kembali mempertimbangkan perjalanan internasional.
Menariknya, anak muda justru termasuk kelompok yang cukup
antusias. Dalam survei JTB, niat bepergian ke luar negeri mencapai 35,9% pada
perempuan berusia di bawah 30 tahun dan 30,9% pada laki-laki kelompok usia yang
sama.
Korea dan Taiwan Jadi Tujuan Favorit
Lalu, kalau warga Jepang ingin pergi ke luar negeri, mereka
pergi ke mana? Jawabannya ternyata banyak berada di Asia. Untuk 2026, Korea
Selatan menjadi tujuan yang paling banyak diminati, dengan 26,7% responden
memilihnya. Taiwan berada di posisi kedua dengan 21%. Eropa dan Hawaii juga
tetap populer, masing-masing sekitar 18,7% dan 18,1%.
Pada periode liburan musim panas, polanya bahkan semakin
kuat. Korea mencapai 26,2% dan Taiwan 16,2%. Secara keseluruhan, destinasi Asia
menyumbang sekitar 79,5% dari pilihan perjalanan luar negeri.
Ada alasan praktis di balik pilihan tersebut. Korea dan
Taiwan relatif dekat dari Jepang, sementara biaya penerbangan dan pengeluaran
selama perjalanan cenderung lebih mudah dikendalikan dibandingkan perjalanan
jauh.
Inilah yang membuat perubahan trend pergi ke negara lain di
Jepang menarik untuk diamati. Warga Jepang memang semakin terbuka untuk kembali
bepergian ke luar negeri, tetapi mereka tetap menghitung jarak dan biaya.
Jadi, lonjakan pembuatan paspor 2026 belum bisa dianggap
sebagai bukti bahwa semua orang Jepang tiba-tiba ingin liburan ke luar negeri.
Namun ketika penurunan biaya paspor bertemu dengan meningkatnya minat
perjalanan internasional, arahnya cukup jelas: orang Jepang mulai semakin aktif
melihat dunia di luar negaranya sendiri.


