Dokter 100 Tahun yang Masih Praktik? Bukti Kualitas Kesehatan Lansia di Jepang!
![]() |
| Potongan gambar dari acara TV Wakayama Telecasting Corporation tampilkan Dokter 100 tahun. Kredit Gambar: VNExpress International |
Bayangkan, umurmu sudah 100 tahun. Apa yang kamu lakukan? Santai di rumah? Jalan-jalan sama cucu? Atau sekadar menikmati hari-hari dengan tenang?
Tapi di Jepang, ada kisah berbeda. Dr. Teru Kasamatsu,
seorang dokter berusia 100 tahun, masih aktif praktik setiap hari. Ia masih
memeriksa pasien, menulis resep, bahkan tersenyum ramah seolah-olah usianya
baru 50. Pertanyaannya: apa yang bikin orang seperti beliau bisa tetap tangguh
di usia senja? Yuk, bahas bareng!
Kerja Tua Demi Pelayanan dan Kesehatan Masyarakat
Ketika ditanya soal pensiun, Dr. Kasamatsu dengan tenang
menjawab, “Kenapa saya harus berhenti kalau masih bisa membantu orang?” Jawaban
sederhana, tapi dalam banget. Di balik itu ada filosofi hidup: bekerja bukan
hanya demi uang, tapi juga demi rasa berarti.
Bukankah kamu sering dengar, kalau punya tujuan hidup, tubuh
dan pikiran jadi lebih kuat? Mungkin itu juga salah satu rahasia panjang umur
beliau.
Jepang Menjadi Negara dengan Lansia Umur 100 Tahun
Terbanyak
Fenomena Kasamatsu bukan kebetulan. Jepang memang dikenal
sebagai negeri dengan jumlah penduduk berusia 100 tahun terbanyak di dunia.
Tahun 2025 saja, data resmi mencatat ada lebih dari 93.000 centenarian.
Mayoritasnya? Perempuan.
Kenapa bisa begitu banyak? Alasannya kombinasi pola makan
sehat (banyak ikan, sayuran, rendah lemak), sistem kesehatan yang merata, serta
budaya disiplin menjaga diri. Bahkan, angka harapan hidup di Jepang termasuk
yang tertinggi di dunia: sekitar 87 tahun untuk perempuan dan 81 tahun untuk
laki-laki.
Coba bandingkan dengan Indonesia, di mana angka harapan
hidup rata-rata masih di bawah Jepang. Menarik ya, buat direnungkan.
Mengapa Para Lansia Jepang Masih Bekerja?
Jangan bayangkan semua lansia Jepang menikmati masa tua
dengan jalan-jalan ke onsen atau santai di taman. Faktanya, lebih dari 9 juta
orang berusia di atas 65 tahun masih bekerja pada 2024.
Ada yang memilih tetap aktif demi merasa berguna, tapi ada
juga yang terpaksa karena kebutuhan ekonomi. Banyak media laporankan fenomena ini terasa “manis-pahit.” Manis, karena semangat mereka
menginspirasi. Pahit, karena sebagian seharusnya sudah beristirahat, tapi masih
harus mencari nafkah.
Pernah lihat di stasiun atau toko di Jepang ada petugas
lansia yang melayani dengan ramah? Itulah realitas sehari-hari di negeri itu.
Dua Sisi Panjang Umur di Jepang
Kisah Dr. Kasamatsu menunjukkan sisi indah dari umur
panjang: sehat, bermanfaat, dan tetap punya tujuan hidup. Tapi di sisi lain,
banyak juga lansia Jepang yang menghadapi beban finansial, kesepian, hingga
keterbatasan fisik.
Jadi, umur panjang itu anugerah besar, tapi juga bisa jadi
tantangan kalau tidak ada sistem sosial yang mendukung.
Dr. Teru Kasamatsu tidak hanya dokter, tapi juga simbol. Ia mengingatkan bahwa umur panjang bukan soal angka di KTP, tapi soal makna hidup yang dijalani. Mungkin, pertanyaan paling penting adalah: kalau suatu hari kamu sampai usia 100 tahun, mau hidup sekadar panjang saja?


