Pemerintah Jepang Dukung AI untuk Dorong Perkembangan Industrinya, Gimana Pendapat Masyarakatnya?
![]() |
| Pemerintah Jepang dukung AI, tetapi apakah masyarakat di sana juta mendukung program ini? Kredit Gambar: /Unsplash |
Pada 23 Desember 2025, Sanae Takaichi dan segenap cabinet Jepang sedang merancang rencana pengembangan dan implementasi AI di Jepang. Hal ini adalah contoh pemerintah Jepang dukung AI di negaranya.
Berdasarkan pengamat ahli AI, pemerintah Jepang saat ini
berada di fase aktif mendorong penggunaan AI. Bahkan dorongan ini masuk dalam
menu strategi nasional 2026. Penggunaan AI sebagai pilar ekonomi Jepang memang
penuh potensi.
Di kondisi kekurangan tenaga kerja sekarang, AI dapat
tingkatkan efisiensi dan membantu produktivitas. Jika dapat mendukung produksi
di Jepang, tingkat daya saing ekonomi Jepang juga naik tentunya.
Namun, ketiga kebijakan ini sedang disusun, pandangan publik
Jepang soal AI terbagi. Rekasi masyarakat soal AI tidak sepenuhnya mendukung.
Ada beberapa sisi yang menolak, hati-hati dan lebih waspada soal teknologi AI.
Perspektif ini muncul akibat penggunaan AI yang lebih dekat
di masyarakat Jepang sering membuat masalah. Mulai dari masalah hoax darikonten AI, penipuan dan masalah copyright seputar AI menjadi makanan sehari-hari
di masyarkat.
Bahasan seputar AI di pemerintah dan di masyarakat
sepertinya terbaik antara AI sebagai alat bantu produksi dan generative AI.
Pemisahan inilah yang mendorong masyarakat Jepang lebih kritis soal AI. Di
Jepang tumbuh ekspektasi kuat bahwa teknologi baru harus transparan, bisa
dikontrol, dan tidak melanggar norma sosial yang sudah ada.
AI sebagai alat bantu produksi tentu transparan dan mudah di
kontrol. Seperti penggunaan AI industri, manufaktur, logistik, atau medis
adalah bukti nyatanya! AI di industri membantu manusia bekerja lebih akurat,
lebih efisien, dan lebih aman.
AI semacam ini tidak menyentuh ranah ekspresi, identitas,
atau kreativitas personal, sehingga jarang memicu resistensi emosional.
Masyarakat Jepang lebih paham bahwa AI seperti ini adalah yang bertugas pada
robot-robot industri yang membantu ekonomi mereka sekarang.
Namun di sisi lain ada generative AI yang sering mereka
hadapi saat konsumsi konten di internet. Generative AI berada di titik yang
jauh lebih sensitif menurut masyarakat Jepang. Banyak orang tahu kalau Jepang
sangat ketat soal copyright dan urusan pemegang hak cipta.
Penggunaan generative AI tidak memenuhi standar tersebut,
makanya banyak orang Jepang tidak suka penggunaan AI ini. Ketika AI mulai
menghasilkan gambar, mengedit foto, meniru gaya ilustrasi, atau memproduksi
teks plagiat dengan edit AI, secara terus-menerus di internet, orang Jepang
jadi jijik.
Bukti nyata rekasi negatif ini ada di implementasi fitur
baru, yaitu edit gambar menggunakan AI. Di media sosial seperti X, fitur ini
dipaksakan untuk semua penggunanya. Para seniman digital dan illustrator Jepang
yang sering share pekerjaan mereka di X, akhirnya kena imbas-nya.
Banyak user X lain menggunakan gambar para seniman digital
dan illustrator Jepang sebagai bahan edit AI. Proses ini tanpa izin dari
pembuat original dan tidak bisa di stop karena gambar sudah masuk database
X.com.
Reaksi keras netizen Jepang terhadap fitur generative AI,
termasuk edit gambar otomatis, bukanlah penolakan terhadap teknologi secara
umum, melainkan penolakan terhadap cara teknologi itu masuk ke ruang personal
dan kreatif tanpa izin yang jelas. Kekhawatiran soal hak cipta, penggunaan data
tanpa consent, dan hilangnya makna di balik sebuah karya menjadi sumber utama
emosi negatif.
Perspektif AI sebagai alat VS generative AI masih sangat
panas di masyarakat Jepang sampai sekarang. Namun semua ini dapat dirangkum
dalam satu kalimat, yaitu “AI diterima sebagai alat, tetapi dipertanyakan
ketika ia menjadi pengganti ekspresi manusia.” Ketegangan inilah yang kini sedang
dihadapi pemerintah Jepang.
Penggunaan generative AI untuk membuat anime tanpa
illustrator dan animator sangat dibenci di Jepang. Namun, AI untuk membantu
animator bekerja lebih produktif tidak akan dipermasalahkan. Inilah yang
nantinya dikejar oleh pemerintah Jepang.
Semoga pemerintah Jepang dukung AI bisa mendorong ekonomi Jepang lebih baik. Jika penggunaan AI yang etis membantu selesaikan masalah krisis tenaga kerja, masyarakat sana pasti juga untung bukan? Mari tunggu saja, bagaimana pihak Jepang mengurus perkembangan AI di negaranya!


