Kabarnya Salon Rambut di Jepang Banyak yang Bangkrut, Emang Kenapa Alasannya?
![]() |
| Salon rambut di Jepang sedang kena masalah kebangkrutan di mana-mana beberapa tahun terakhir. Kredit Gambar: /Unsplash |
Eh, beneran salon di Jepang banyak yang tutup? Dulu kayaknya
pernah ada kabar kalau wisatawan banyak yang cari salon Jepang, kok sekarang
malah pada bangkrut? Ada apa nih?
Ternyata ini berhubungan dengan data statistic bisnis di
Jepang. Banyak salon-salon yang ternyata benar tutup beberapa tahun terakhir
ini. Kabarnya usaha ini populer di era dulu karena dianggap cukup stabil karena
orang pasti butuh potong rambut. Namun, sekarang kondisi sudah berubah drastis!
Di tahun 2025 lalu, teratat jumlah salon yang bangkrut di Jepang
mencapai angka tertinggi, yaitu sekitar 235 kasus. Angka tutup ini lebih tinggi
dibanding masa pandemi.
Saat ditelusuri lebih lanjut, penyebab utama salon Jepang
bangkrut adalah peningkatan biaya operasi salon. Saat inflasi melanda Jepang,
harga-harga pasti naik, termasuk layanan salon. Masalahnya, saat harga naik,
masyarakat mulai menghemat dan kurangi pengeluaran ke salon.
Beban operasional yang naik tapi pendapatan dari customer
turun pasti fatal untuk bisnis. Inflasi membuat harga listrik, kebutuhan produk
rambut, sampai biaya operasional salon yang lain naik semua!
Sebagai alternatif, banyak orang Jepang makin kritis memilih
salon. Banyak orang sekarang memilih salon murah atau tempat potong rambut
cepat seperti QB House. Nah, kondisi ini membuat salon kecil makin sulit
bersaing.
Menariknya, banyak orang Jepang justru merasa masalah
utamanya bukan hanya ekonomi. Namun karena jumlah salon yang terlalu banyak.
Ada komentar warga Jepang yang muncul di sosial media
diskusi soal ini. Saat berita banyak salon tutup di Jepang, mereka menunjuk
pada jumlah salon yang terlalu banyak, bukan soal pergerakan ekonomi yang
resesi. Komentar yang paling banyak muncul antara lain:
·
“Dalam satu blog tempat bisa ada lebih dari satu
salon, ini terlalu banyak.”
·
“Populasi Jepang makin dikit, tapi layanan salon
masih banyak, jelas bakal pada tutup.”
·
“Di dekat rumah saya ada 4-5 salon padahal
konbini cuma ada 2.”
Faktanya memang cukup mengejutkan. Jepang punya sekitar 250
ribu salon rambut, sementara jumlah traffic light hanya sekitar 210 ribu.
Perbandingan ini bisa menggambarkan sebanyak apa salon di Jepang saat ini!
Masalah kebangkrutan di Jepang sebenarnya terjadi di banyak
sektor usaha. Namun, hanya salon yang terlihat paling parah karena jumlahnya
yang banyak.
Selain persaingan akibat banyaknya salon di Jepang, banyak
salon kecil juga kesulitan mencari pegawai. Stylist lebih tertarik kerja di
salon besar dengan gaji dan keamanan kerja yang lebih jelas.
Sementara itu, pegawai muda yang baru lulus sekolah
kecantikan sering memilih keluar untuk membuka usaha salon sendiri. Akibatnya, salon
kecil makin kesulitan bertahan.
Sekarang makin jelas kalau masalah salon di Jepang tutup
karena kombinasi banyak faktor. Mudah-mudahan kondisi bisnis salon di sana
tidak makin memburuk karena banyak orang bergantung pada usaha tersebut.


