WNA yang Buka Usaha di Jepang Tertekan Aturan Visa Baru, Apa yang Membuat Kesulitan?

 

Buka usaha di Jepang makin sulit bagi WNA akibat ada perubahan aturan 2025 yang berimbas tahun ini.
Kredit Gambar: Julien/Unsplash

Pernah gak kamu membayangkan enaknya buka usaha di Jepang. Impian ini sayangnya makin susah diwujudkan karena aturan  yang berubah baru-baru ini. Situasi ini sekarang sedang dirasakan banyak pebisnis asing yang mau masuk ke Jepang.

Perubahan aturan visa di Jepang mulai terasa dampaknya. Bukan hanya sekadar administratif, tapi langsung memengaruhi keberlangsungan usaha.

Tekanan Mulai Terlihat di Lapangan

Sebuah survei dari Tokyo Shoko Research menunjukkan kondisi yang cukup serius. Sekitar 5% pemilik bisnis asing mulai mempertimbangkan untuk menutup usahanya. Walaupun banyak yang ada di atas garis merah bangkrut, birokrasi yang berubah jelas membuat stress urusan usaha ini!

Selain itu, sekitar 45% lainnya merasa operasional bisnis mereka akan terdampak. Angka ini menunjukkan kalau perubahan aturan bukan hal kecil bagi pebisnis asing di Jepang.

Aturan Baru Jadi Tantangan Utama

Masalahnya ada di kebijakan baru untuk visa Business Manager yang mulai berlaku sejak Oktober 2025. Perubahan ini menjadi satu paket dengan kebijakan perubahan aturan untuk WNA di Jepang lain. Peraturan lain yang paling terkenal adalah naiknya syarat bahasa magang Jepang, aturan visa baru Jepang dan kenaikan biaya perpanjangan visa menetap di Jepang.

Untuk urus visa usaha di Jepang, kamu harus mendata modal usaha yang akan kamu gunakan untuk bisnis dari awal. Syarat modal ini naik drastis dari sekitar 5 juta yen menjadi 30 juta yen akibat aturan baru.

Bukan cuma itu, ada juga kewajiban lain seperti harus mempekerjakan staf tetap dan memiliki kemampuan bahasa Jepang. Kalau dilihat, aturan ini memang ingin meningkatkan standar. Namun, bagi banyak usaha kecil, ini jadi beban yang tidak ringan.

Usaha Kecil Jadi yang Paling Terpukul

Dampak paling terasa ada di bisnis kecil seperti restoran dan usaha keluarga. Banyak dari mereka sebelumnya berjalan dengan modal sekitar 5 sampai 6 juta yen. Namun, karena aturan baru, mereka tidak lagi memenuhi syarat untuk buka usaha di Jepang.

Walaupun sebelumnya bisa untung dengan modal kecil, para WNA yang buka usaha tertabran dengan aturan baru. Kalau di survey mereka tidak lagi memenuhi syarat dan harus naikan modal inti usaha secara tiba-tiba. Nah, di titik ini mulai muncul dilemma: bertahan dengan risiko besar naikan modal, atau memilih menutup usaha di Jepang.

Antara Kualitas dan Kesempatan

Di satu sisi, pemerintah ingin menjaga kualitas investasi asing. Mereka ingin memastikan bisnis yang masuk benar-benar serius dan stabil. Namun, di sisi lain, kebijakan ini bisa mengurangi keberagaman usaha kecil yang selama ini ikut menggerakkan ekonomi lokal.

Padahal, sektor seperti kuliner dan UMKM sering jadi wajah nyata kehidupan sehari-hari di Jepang. Walaupun tujuannya menyaring praktek usaha gadungan dan naikan ivestasi ke Jepang, perubahan ini tetap terasa berat bagi WNA.

Jadi, Apa yang Bisa Terjadi?

Kalau dilihat ke depan, ada dua kemungkinan. Jepang bisa mendapatkan investor yang lebih kuat secara modal. Namun, di saat yang sama, peluang bagi usaha kecil bisa semakin sempit.

Makanya, situasi ini bukan sekadar soal aturan visa. Tapi tentang arah ekonomi Jepang ke depan. Pertanyaannya sekarang, apakah langkah ini akan memperkuat sistem, atau justru membuat peluang baru jadi lebih sulit masuk? Menurut kamu, apa yang harus dilakukan WNA yang buka usaha di Jepang?

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru