6 Fakta Soal Ketatnya Aturan Atribut Kerja di Jepang, Beneran Salah Pakai Jaket Aja Jadi Masalah?

 

Aturan atribut kerja di Jepang lebih ketat karena tingkat disiplin dan penegakan aturan yang tinggi!
Kredit Gambar: Jack Sloop/Unsplash

Banyak cerita soal penggunaan atribut kerja di Jepang yang lebih ketat aturannya. Bahkan ada yang mengatakan salah memakai jaket saja bisa dimarahi atasan, bahkan dipulangkan ke Indonesia. Apakah ini benar?

Sekilas cerita ini terdengar berlebihan. Namun setelah melihat aturan keselamatan kerja di Jepang, ternyata memang ada benarnya. Hanya saja, bukan berarti satu kesalahan kecil langsung membuat seseorang kehilangan pekerjaannya. Mari bahas faktanya di sini!

1. Seragam Kerja di Jepang Merupakan Bagian dari Sistem Keselamatan

Di banyak tempat kerja di Jepang, terutama pada pekerjaan genba seperti konstruksi, manufaktur, pengelasan, logistik, hingga sebagian pertanian, seragam bukan hanya soal penampilan.

Jaket kerja, helm, sepatu keselamatan, rompi reflektif, sarung tangan, hingga pelindung mata merupakan bagian dari perlengkapan keselamatan kerja atau Personal Protective Equipment (PPE). Ini adalah perlengkapan wajib saat kerja di Jepang!

Pemerintah Jepang juga mewajibkan perusahaan memberikan pendidikan keselamatan kerja dan memastikan pekerja menggunakan perlengkapan yang sesuai dengan pekerjaannya. Maka dari itu, atribut kerja diperlakukan sama pentingnya dengan kemampuan bekerja.

2. Salah Memakai Jaket Memang Bisa Mendapat Teguran

Pekerja dengan atribut kerja seadanya seperti di Indonesia bakal kena masalah di Jepang.
Kredit Gambar: Mufid Majnun/Unsplash

Banyak orang mengira perusahaan hanya memperhatikan apakah pekerja memakai seragam atau tidak. Kenyataannya, cara memakai seragam juga diperhatikan.

Misalnya memakai hoodie yang mengganggu posisi helm, menggunakan jaket pribadi yang terlalu longgar saat bekerja di dekat mesin, atau membuka resleting seragam ketika aturan perusahaan mewajibkan seragam tertutup.

Supervisor biasanya akan langsung memberikan teguran karena pakaian yang tidak sesuai dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

3. Atribut Tidak Lengkap Bisa Membuatmu Tidak Boleh Mulai Bekerja

Di banyak perusahaan Jepang berlaku prinsip sederhana, yaitu tidak ada perlengkapan keselamatan, maka tidak boleh bekerja.

Tentu saja kedisiplinan kerja di Jepang sangat tinggi. Kalau pekerja belum memakai helm, sepatu keselamatan, rompi, atau atribut lain yang diwajibkan, mereka biasanya diminta kembali ke ruang ganti untuk melengkapinya terlebih dahulu.

Hal ini bukan hukuman, melainkan prosedur standar agar semua orang bekerja dalam kondisi yang aman.

4. Kesalahan Atribut Kecil Tidak Langsung Dipulangkan

Inilah bagian yang sering disalahpahami. Memang benar perusahaan Jepang disiplin. Namun bukan berarti salah memakai jaket satu kali langsung dipulangkan ke Indonesia.

Biasanya pelanggaran akan melalui beberapa tahapan, mulai dari teguran lisan, peringatan tertulis, pembinaan ulang mengenai keselamatan kerja, hingga sanksi apabila pelanggaran terus diulang.

Artinya, yang menjadi masalah bukan satu kesalahan kecil, melainkan kebiasaan mengabaikan aturan keselamatan.

5. Pemagang Asing Harus Lebih Disiplin Dibanding Pekerja Biasa

Bagi peserta magang maupun pekerja asing, aturan ini biasanya terasa lebih ketat. Selain diawasi oleh perusahaan, mereka juga berada dalam pengawasan organisasi pendamping dan sistem pembinaan tenaga kerja asing di Jepang.

Apabila seseorang terus melanggar aturan keselamatan, perusahaan dapat melaporkan pelanggaran tersebut sehingga memengaruhi kelanjutan program magangnya. Sebab itu, disiplin terhadap atribut kerja menjadi salah satu penilaian penting selama bekerja di Jepang.

6. Mengapa Jepang Sangat Ketat Soal Atribut Kerja?

Kalau sudah niat kerja di Jepang, harus mau belajar ikuti aturan atribut kerja-nya mulai dari sekarang!
   Kredit Gambar: Siwawut Phoophinyo/Unsplash

Budaya kerja Jepang memiliki target zero accident atau nol kecelakaan kerja. Setiap potensi bahaya berusaha dicegah sebelum benar-benar terjadi.

Selain itu, masyarakat Jepang juga memiliki budaya disiplin dan tanggung jawab terhadap kelompok. Jika satu pekerja melanggar aturan keselamatan, bukan hanya dirinya yang berisiko mengalami kecelakaan, tetapi juga rekan kerja dan jalannya produksi.

Itulah sebabnya perusahaan Jepang sering memperhatikan hal-hal yang terlihat sepele, seperti posisi helm, resleting jaket, penggunaan sarung tangan, hingga kebersihan seragam kerja.

Disiplin Kecil Menjadi Modal Besar Saat Kerja di Jepang

Kalau kamu berencana bekerja atau magang di Jepang, jangan menganggap aturan atribut kerja sebagai hal yang merepotkan.

Justru dari hal-hal kecil seperti memakai seragam dengan benar, perusahaan mulai menilai apakah seseorang mampu mengikuti prosedur kerja yang lebih besar. Sikap disiplin seperti inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa budaya keselamatan kerja di Jepang dikenal sangat baik.

Jadi, sebelum berangkat ke Jepang, biasakan diri untuk mengikuti aturan sekecil apa pun. Kebiasaan sederhana ini akan membantumu lebih cepat beradaptasi dan mendapatkan kepercayaan dari perusahaan tempat kamu bekerja. Sebisa mungkin, ikuti aturan atribut kerja di Jepang dengan baik!

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru