Kerja Pertanian di Jepang Waktu Musim Panas Bisa Berubah, Kenapa Malah Ambil Jam Malam?

 

Gara-gara suhu musim panas, banyak proyek kerja pertanian di Jepang dipindah ke jam malam.
Kredit Gambar: Alexey Holm/Unsplash

Kalau mendengar cerita tentang kerja pertanian di Jepang waktu musim panas, mungkin banyak orang Indonesia membayangkan pekerjaan di kebun dengan jadwal seperti biasa. Pagi berangkat, bekerja sampai siang atau sore, lalu pulang.

Namun, kondisi di lapangan tidak selalu seperti itu. Musim panas Jepang dalam beberapa tahun terakhir semakin panas, sehingga petani mulai mengubah cara dan waktu bekerja untuk menghindari risiko heatstroke.

Bagi WNI yang tertarik mengambil job pertanian di Jepang, perubahan ini penting diketahui sejak sebelum berangkat.

Musim Panas Jepang Bisa Mengubah Jam Kerja Pertanian

Masalahnya bukan hanya suhu yang terasa panas. Ketika suhu dan kelembapan meningkat, pekerjaan fisik di luar ruangan menjadi jauh lebih berat dan risiko heatstroke ikut naik.

Survei Japan Weather Association terhadap 90 petani muda Jepang menunjukkan bahwa lebih dari 90% responden merasa panas musim panas memengaruhi lingkungan atau pola kerja mereka. Sebanyak 72% meningkatkan frekuensi istirahat, 58,5% menggeser waktu kerja menjadi lebih pagi atau lebih sore, dan 39% mengubah jumlah jam kerja dalam sehari.

Jadi, jangan heran kalau calon pekerja Indonesia menemukan pola kerja yang berbeda ketika musim panas datang. Bahkan, pada kondisi tertentu, jam kerja malam job pertanian di Jepang bisa menjadi salah satu cara menghindari panas ekstrem.

Japan Weather Association juga melakukan pengamatan di dua perkebunan pada musim panas 2025. Puncak panas terjadi sekitar pukul 12.00 hingga 14.00 dengan WBGT mencapai 35,7°C, sehingga pekerjaan dilakukan pada pagi hari untuk menghindari periode paling berbahaya.

Motoaki Iijima Jadi Contoh Kasus Petani Ubah Jadwal Kerja Karena Panas

Perubahan jadwal tersebut bukan sekadar hasil survei. Reuters melaporkan pengalaman petani bunga Jepang bernama Motoaki Iijima yang mulai melakukan panen pada malam hari setelah salah seorang pekerjanya mengalami heatstroke di dalam greenhouse.

Suhu di dalam greenhouse tempatnya bekerja bahkan dapat melewati 40°C. Karena kondisi tersebut, pekerjaan dipindahkan ke malam atau dini hari agar pekerja tidak terlalu lama berada di bawah panas ekstrem.

Kasus Iijima memberikan gambaran bahwa kerja pertanian di Jepang waktu musim panas bisa membutuhkan kemampuan beradaptasi. Tujuannya bukan sekadar mengejar hasil panen, tetapi memastikan pekerja tetap aman ketika suhu siang hari terlalu berbahaya.

Sektor Peternakan Juga Menghadapi Masalah yang Sama

Perubahan pola kerja bukan hanya terjadi pada petani tanaman. Pekerjaan peternakan juga ikut terkena dampak masalah panas ekstrim di musim panas Jepang.

Reuters menceritakan peternak unggas Tetsuya Usuba yang mulai membangunkan ayamnya sekitar pukul 02.30 agar ayam bisa makan sebelum suhu meningkat. Bahkan setelah jadwal diubah, kematian unggas masih dapat terjadi ketika suhu tiba-tiba melonjak.

Artinya, baik pertanian maupun peternakan sama-sama harus beradaptasi dengan cuaca. Bagi WNI, ini menjadi gambaran bahwa pekerjaan pertanian di Jepang tidak hanya membutuhkan kemampuan fisik, tetapi juga kesiapan mengikuti pola kerja yang menyesuaikan kondisi alam.

Panas Ekstrem Bisa Mengganggu Produktivitas Pertanian

Panas ekstrim di Jepang ternyata bisa sangat mengganggu para pekerja pertanian di sana!
Kredit Gambar: Jake Gard/Unsplash

Masalah panas tidak berhenti pada kesehatan pekerja. Tanaman dan hasil pertanian juga ikut terkena dampaknya. Dalam survei Japan Weather Association, sekitar 95% petani muda mengatakan produk pertanian atau peternakan mereka terdampak panas. Bahkan, 76,5% mengatakan hasil panen berkurang dan 64,7% melihat pertumbuhan produk pertanian tidak optimal akibat panas.

Reuters juga melaporkan bahwa kehilangan produktivitas akibat panas telah memberikan dampak ekonomi besar bagi Jepang. Secara keseluruhan, kehilangan produktivitas akibat panas diperkirakan mencapai 926 juta jam kerja dan sekitar US$46 miliar di berbagai sektor.

Karena itu, perubahan jam kerja sebenarnya merupakan bagian dari upaya mempertahankan produktivitas sekaligus melindungi pekerja.

Data Petani Jepang Tunjukan Banyak Pekerja yang Sudah Lansia

Ada alasan lain mengapa masalah ini menjadi perhatian serius. Sektor pertanian Jepang memiliki populasi pekerja yang sangat tua. Data Kementerian Pertanian Jepang menunjukkan bahwa pada 2024, sekitar 71,7% pekerja pertanian utama berusia 65 tahun atau lebih. Rata-rata usia pekerja pertanian utama bahkan mencapai 69,2 tahun.

Kondisi ini membuat persoalan panas menjadi semakin serius. Pemerintah Jepang sendiri menyebut pekerja lansia memiliki risiko heatstroke yang lebih tinggi dan terus mendorong langkah pencegahan di sektor pertanian.

Di sinilah keberadaan pekerja yang lebih muda menjadi penting. Tenaga kerja asing yang datang dengan kondisi fisik dan kesiapan kerja yang baik dapat membantu menjaga keberlangsungan pekerjaan pertanian Jepang, meskipun tetap harus mengikuti aturan keselamatan dan tidak boleh memaksakan diri ketika kondisi panas berbahaya.

Heatstroke Menjadi Momok Pekerja Lapangan di Jepang

Bukti bahayanya juga terlihat dari data keselamatan kerja. Pada 2025, Jepang mencatat 1.803 kasus pekerja yang meninggal atau membutuhkan setidaknya empat hari istirahat akibat heatstroke di tempat kerja, meningkat sekitar 43% dibandingkan 2024 dan menjadi angka tertinggi sejak statistik tersebut mulai dikumpulkan. Dari jumlah tersebut, 19 orang meninggal dunia.

Untuk sektor pertanian sendiri, terdapat 34 kasus pada 2025, termasuk 2 kematian. Sementara untuk 2026, data tahunan penuh tentu belum tersedia karena tahun masih berjalan. Namun, pemerintah Jepang sudah menjadikan Juli sampai September sebagai periode khusus kampanye pencegahan heatstroke bagi pekerja pertanian, dengan slogan yang secara harfiah mengingatkan bahwa bekerja sendirian pada musim panas bisa merenggut nyawa.

Jadi, WNI yang Ingin Kerja Pertanian Harus Siap Apa?

Kalau kamu tertarik kerja pertanian di Jepang, jangan hanya mempersiapkan diri menghadapi salju ketika musim dingin. Kamu juga harus siap menghadapi musim panas dengan kemungkinan perubahan jadwal kerja, tambahan waktu istirahat, hingga pekerjaan yang dilakukan lebih pagi atau malam.

Perubahan tersebut bukan berarti pekerjaan pertanian di Jepang tidak teratur. Justru, ini menunjukkan bagaimana sektor pertanian Jepang berusaha menyesuaikan pekerjaan dengan kondisi cuaca yang semakin ekstrem.

Jadi sebelum berangkat, pahami bahwa bekerja di Jepang berarti harus siap mengikuti kondisi lapangan. Musim berganti, kondisi kerja bisa ikut berubah, dan kemampuan beradaptasi menjadi salah satu modal penting untuk bertahan serta bekerja dengan aman di Jepang.

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru