Kucing di Jepang Nyaris Masuk Klasifikasi Spesies Invasif, Kok Bisa?

 

Hampir saja kucing di Jepang dimasukan klasifikasi spesies invasif dan perketat peraturan seputarnya.
Kredit Gambar: Emre/Unsplash

Kucing di Jepang ternyata menyimpan persoalan yang cukup rumit. Di satu sisi, hewan ini sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Jepang. Namun di sisi lain, keberadaan kucing yang hidup liar mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap ekosistem di sejumlah wilayah.

Menariknya, pemerintah Jepang sempat berencana memperluas klasifikasi kucing sebagai spesies asing invasif. Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah mendapat banyak kritik dari masyarakat.

Faktanya Kucing Bukan Hewan Asli Jepang

Meski sulit membayangkan Jepang tanpa kucing, Felis catus sebenarnya bukan spesies asli negara tersebut. Kucing diperkirakan masuk ke Jepang melalui kapal perdagangan pada periode Heian sekitar tahun 794 hingga 1185.

Awalnya, kucing memiliki peran praktis. Hewan ini dipercaya digunakan untuk membantu melindungi gulungan kitab Buddha dari serangan tikus.

Seiring waktu, kucing semakin berkembang dan menyebar di berbagai wilayah Jepang. Sebagian kemudian hidup bebas tanpa bergantung sepenuhnya kepada manusia.

Masalah Kucing Liar di Jepang Makin Jadi Perhatian

Di sinilah muncul persoalan. Kucing yang hidup liar dapat memangsa berbagai satwa asli dan memberikan tekanan terhadap ekosistem lokal.

Kondisi tersebut menjadi perhatian terutama di pulau-pulau Jepang yang memiliki lingkungan unik dan satwa endemik. Karena itu, kucing liar ganggu ekosistem di Jepang bukan sekadar persoalan mengenai keberadaan hewan peliharaan yang berkeliaran.

Sebelumnya, pemerintah Jepang sudah memasukkan feral cats, atau kucing yang hidup liar dan tidak bergantung pada manusia, dalam klasifikasi yang berkaitan dengan perlindungan ekosistem. Namun, Kementerian Lingkungan Jepang sempat mengusulkan cakupan yang lebih luas.

Rencana Tersebut Mendapat Kritik Publik di Jepang

Usulan tersebut membuat masyarakat Jepang khawatir karena seluruh kucing dengan nama spesies Felis catus berpotensi masuk dalam klasifikasi tersebut.

Masalahnya, masyarakat tentu ingin membedakan antara kucing peliharaan, kucing terlantar, dan kucing yang benar-benar hidup liar. Jika klasifikasinya terlalu luas, muncul kekhawatiran bahwa kucing rumahan yang tidak sengaja keluar juga dapat disalahartikan sebagai bagian dari populasi yang harus dikendalikan.

Perdebatan inilah yang membuat masalah kucing liar di Jepang menjadi semakin ramai dibicarakan. Sampai-sampai, pihak akademik dan pemerintahan juga masuk dalam diskusinya.

Jepang Akhirnya Membatalkan Penetapan Kucing Jadi Spesies Infasif

Pada 4 Agustus 2026, Kementerian Lingkungan Jepang akhirnya mengumumkan penarikan kembali usulan perubahan tersebut. Artinya, klasifikasi sebelumnya tetap digunakan dan tidak seluruh kucing domestik otomatis dianggap sebagai spesies invasif.

Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan kucing di Jepang tidak sesederhana antara membiarkan atau mengendalikan kucing liar. Pemerintah perlu menjaga ekosistem, tetapi pada saat yang sama harus memastikan kebijakan tersebut tidak berdampak pada kucing peliharaan masyarakat.

Bagi Jepang, tantangannya adalah menemukan batas yang tepat antara perlindungan satwa liar, kelestarian ekosistem, dan kesejahteraan kucing.

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru