Tren Memelihara Hewan di Jepang Terus Naik Mengalahkan Motivasi Punya Anak, Gak Bahaya Tuh?
![]() |
| Tren memelihara hewan di Jepang mengalahkan keinginan punya anak ternyata! Kredit Gambar: /Unsplash |
Tren memelihara hewan di Jepang semakin menarik perhatian
dunia di tengah masalah kelahiran di sana. Kalau dulu banyak keluarga Jepang
identik dengan anak-anak yang bermain di taman, kini pemandangan yang sering
terlihat justru orang berjalan santai sambil mengajak anjing peliharaannya atau
membawa kucing menggunakan stroller khusus.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup. Data
terbaru menunjukkan jumlah anjing dan kucing peliharaan di Jepang kini sudah
melampaui jumlah anak-anak. Kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana
masyarakat Jepang sedang mengalami perubahan besar dalam struktur keluarga dan
pola hidup.
Jumlah Peliharaan Kini Lebih Banyak daripada Anak-anak
Berdasarkan survei Japan Pet Food Association 2025, Jepang
memiliki sekitar 15,67 juta anjing dan kucing peliharaan. Sebagai perbandingan,
jumlah anak berusia di bawah 15 tahun pada April 2026 tercatat sekitar 13,29
juta jiwa. Artinya, populasi hewan peliharaan lebih banyak sekitar 2,4 juta
dibanding jumlah anak.
Banyak orang mengira kondisi ini terjadi karena masyarakat
Jepang semakin gemar memelihara hewan. Faktanya, jumlah anjing dan kucing
sebenarnya tidak meningkat drastis, bahkan sedikit menurun dibanding sekitar
satu dekade lalu.
Penyebab utamanya justru berasal dari penurunan angka kelahiran
di Jepang yang terus berlangsung selama 45 tahun berturut-turut. Jumlah anak
berkurang jauh lebih cepat daripada jumlah hewan peliharaan, sehingga muncul
fenomena yang kini sering disebut sebagai generasi fur babies.
Hewan Peliharaan Kini Dianggap Seperti Anggota Keluarga
Perubahan yang paling terlihat bukan pada jumlah
peliharaannya, tetapi pada cara masyarakat memperlakukan mereka.
Kini banyak keluarga rela membeli makanan premium, pakaian,
kereta dorong, hingga layanan kesehatan terbaik untuk anjing dan kucing mereka.
Fenomena ini dikenal sebagai pet humanization, yaitu memperlakukan hewan
peliharaan layaknya anggota keluarga atau bahkan seperti anak sendiri.
Perubahan ini juga memengaruhi dunia bisnis. Beberapa
perusahaan yang sebelumnya memproduksi perlengkapan bayi mulai beralih membuat
produk khusus hewan peliharaan. Misalnya, Lucky Industries yang kini
memproduksi gendongan anjing, sementara Unicharm memperluas bisnis popok dan
perlengkapan kebersihan hewan karena permintaannya terus meningkat.
Bukan Karena Tidak Suka Anak, Tetapi Karena Perubahan Gaya
Hidup
Fenomena orang Jepang memilih peliharaan dibanding punya
bayi sebenarnya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Para peneliti menjelaskan bahwa hewan peliharaan bukan
penyebab rendahnya angka kelahiran. Kondisi ini lebih merupakan dampak dari
perubahan demografi dan gaya hidup masyarakat Jepang. Semakin banyak orang
menikah pada usia yang lebih matang, memilih hidup sendiri, atau menjadi
pasangan tanpa anak. Dalam situasi seperti itu, kehadiran hewan peliharaan
sering menjadi teman hidup yang memberikan rasa nyaman dan mengurangi kesepian.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Jepang sedang menghadapi
perubahan sosial yang cukup besar. Tren memelihara hewan di Jepang bukan hanya
tentang semakin sayangnya masyarakat kepada anjing dan kucing, tetapi juga
menjadi cerminan bagaimana perubahan pola hidup berjalan seiring dengan
tantangan demografi di Jepang.
Pandangan punya anak repot makin kental di kalangan keluarga
muda di Jepang. Hasilnya, tren memelihara hewan di Jepang malah makin populer.
Pemerintah sana harus mulai kawatir dengan munculnya tren gaya hidup ini.


