Pentingnya Sedia Toilet Darurat di Jepang Sebelum Kena Bencana, Tahukah Kamu Cara Siapkannya?
![]() |
| Tampilan toilet darurat di Jepang untuk keperluan para pengungsi bencana. Kredit Gambar: Wikipedia |
Pentingnya sedia toilet darurat di Jepang mungkin belum
banyak terpikirkan oleh WNI yang baru akan tinggal dan bekerja di sana. Saat
membahas persiapan bencana, kebanyakan orang lebih fokus pada makanan, air
minum, obat, dan tas darurat.
Namun, ada satu kebutuhan yang tetap harus digunakan setiap
hari, bahkan ketika gempa besar terjadi, yaitu toilet. Di kondisi darurat kalau
buang air di Jepang tetap tidak boleh sembarangan. Bisa kena denda kalau berani
buang air sembarangan!
Makanya, hal ini bukan sekadar kekhawatiran kecil.
Berdasarkan survei nasional Taikō Pharmaceutical di Jepang, tidak bisa
menggunakan toilet menjadi kekhawatiran terbesar responden saat bencana.
Sebanyak 66,1% responden mengaku mencemaskan masalah tersebut.
Masalah Toilet Bisa Jadi Masalah Besar Saat Bencana
Toilet rumah terlihat seperti fasilitas sederhana selama
kondisi normal. Tinggal digunakan, disiram, dan semuanya kembali seperti biasa.
Namun, masalah kena bencana di Jepang bisa mengubah kondisi tersebut dalam
waktu singkat.
Gempa besar dapat merusak saluran air dan pipa pembuangan.
Listrik juga dapat padam. Dalam kondisi tertentu, toilet rumah bahkan tidak
boleh langsung disiram sebelum kondisi sistem pembuangan dipastikan aman.
Jika pipa mengalami kerusakan tetapi toilet tetap digunakan
dan disiram, air limbah dapat bocor atau meluap.
Masalah toilet juga tidak boleh dianggap sepele. Orang yang
takut tidak bisa menggunakan toilet kadang sengaja mengurangi minum. Padahal,
kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan masalah kesehatan
lainnya.
Menariknya, survei Taikō Pharmaceutical menunjukkan adanya
perbedaan antara kekhawatiran dan persiapan masyarakat. Air minum sudah
disiapkan oleh 76,3% responden. Makanan darurat disiapkan oleh 66,5%, sementara
senter tersedia di rumah 62,9% responden. Namun, hanya 41,3% yang memiliki
toilet darurat.
Bukankah Pemerintah Akan Menyediakan Toilet?
Pemerintah Jepang dan pemerintah daerah memang memiliki
sistem penyediaan toilet darurat saat terjadi bencana.
Di tempat evakuasi, pengungsi dapat menggunakan berbagai
fasilitas. Mulai dari toilet portabel, toilet sementara, hingga sistem manhole
toilet yang dapat digunakan dalam kondisi darurat.
Jadi, cara dapat toilet darurat saat mengungsi di Jepang
memang salah satunya adalah melalui fasilitas yang disediakan di lokasi
evakuasi.
Namun, ada masalah yang perlu dipahami. Bantuan dan
fasilitas tersebut tidak selalu tersedia langsung setelah bencana terjadi.
Jalan dapat rusak, jumlah pengungsi bisa sangat banyak, dan
petugas masih harus menangani berbagai kondisi darurat. Karena itu, Jepang
tidak hanya mengandalkan pemerintah untuk menyediakan toilet. Masyarakat juga
didorong menyiapkan kebutuhan sendiri.
Inilah alasan mengapa pentingnya sedia toilet darurat di
Jepang perlu dipahami oleh WNI yang akan tinggal di apartemen atau rumah
sendiri.
WNI yang Tinggal Sendiri Sebaiknya Punya Persediaan
Banyak pekerja Indonesia tinggal sendiri setelah sampai di
Jepang. Saat kondisi normal, semuanya tentu terasa mudah.
Namun, ketika gempa besar membuat toilet apartemen tidak
dapat digunakan, kebutuhan dasar tetap harus dipenuhi.
Panduan kesiapsiagaan Jepang merekomendasikan sekitar 35
kali penggunaan toilet per orang untuk kebutuhan satu minggu. Perhitungannya
menggunakan perkiraan lima kali penggunaan per hari.
Karena itu, WNI yang tinggal sendiri dapat menjadikan angka
tersebut sebagai target awal. Tidak perlu membeli toilet portabel besar.
Produk seperti emergency toilet bag menjadi pilihan praktis
karena dapat disimpan di apartemen dan digunakan ketika toilet normal tidak
bisa dipakai.
Saat membeli, jangan hanya melihat ukuran kemasan.
Perhatikan jumlah penggunaan yang tersedia. Memiliki persediaan sekitar 35 kali
atau lebih tentu lebih masuk akal dibanding hanya menyimpan beberapa kantong
untuk keadaan darurat.
Jangan Hanya Siapkan Kantong Toilet
Toilet darurat bukan hanya soal kantong penampung. WNI yang
tinggal di Jepang sebaiknya membuat satu kotak perlengkapan khusus. Isinya
dapat berupa kantong toilet darurat, kantong sampah tambahan, tisu toilet, tisu
basah, hand sanitizer, sarung tangan sekali pakai, masker, dan pengontrol bau.
Senter atau lampu LED juga layak dimasukkan. Bayangkan harus
menggunakan toilet darurat saat malam hari ketika listrik sedang padam.
Perlengkapan kecil tersebut bisa membuat kondisi darurat jauh lebih mudah
dihadapi.
Selain itu, pikirkan juga tempat penyimpanan sementara untuk
limbah. Saat bencana besar, pengangkutan sampah dapat terganggu sehingga limbah
tidak selalu langsung dibuang seperti biasanya. Ikuti informasi dari pemerintah
kota mengenai cara penanganan limbah setelah bencana.
Persiapan Kecil untuk Hidup Lebih Siap
Membeli toilet darurat bukan berarti harus hidup dengan rasa
takut terhadap gempa setiap hari. Persiapan dilakukan karena kita tidak tahu
kapan kondisi darurat terjadi.
WNI yang akan bekerja di Jepang biasanya sibuk mempersiapkan
bahasa, dokumen, pekerjaan, dan keberangkatan. Semua itu memang penting. Namun,
setelah tiba di Jepang, kemampuan hidup mandiri juga harus dipikirkan.
Salah satunya adalah memastikan kebutuhan dasar tetap
terpenuhi ketika keadaan tidak berjalan normal. Jadi, setelah mendapatkan
tempat tinggal di Jepang, jangan lupa memasukkan toilet darurat ke daftar
belanja kebutuhan penting.
Karena pada akhirnya, pentingnya sedia toilet darurat di
Jepang bukan hanya soal menghadapi bencana, tetapi juga soal mempersiapkan diri
agar tetap bisa hidup dengan lebih aman saat kondisi benar-benar darurat.
Kalau kamu ingin tahu persiapan lebih lengkap lain untuk siap hidup di Jepang, pastikan belajar di LPK Saitama dulu. Kamu tidak hanya diajarkan bahasa, tapi berbagai aspek penting untuk bisa bekerja lancar di Jepang!


