Fenomena Pekerja Indonesia Putus Asa Cari Kerja Sedang Terjadi, Apa Sih Penyebabnya?
![]() |
| Pekerja Indonesia putus asa cari kerja makin banyak sekarang, apa penyebab fenomena ini? Kredit Gambar: Omar Gurnah/Flickr |
Beberapa wktu terakhir ada penelitian soal status mental pekerja Indonesia putus asa. Berdasarkan data dari LPEM FEB UI dalam Labor Market Brief, tercatat 1,87 juta angka orang Indonesia menyerah cari kerja.
Angka
tersebut adalah kategori mereka yang berumur produktif, sudah lama tidak dapat
kerja dan memang tidak berniat mencari kerja lanjut. Status orang seperti ini
berbeda dengan pengangguran yang masih berusaha cari kerja. Status pekerja
seperti ini memang yang paling parah di masyarkat.
Sayangnya,
jumlah orang yang putus asa cari kerja ini meningkat 11% dibanding tahun 2024.
Angka tersebut sudah dipastikan dari hasil survey Sakernas BPS.
Akibat
jumlahnya yang banyak, media-media mengangkat berita ini. Berikut salah satu
contoh bahasannya di sosial media. Kamu bisa cek yang komen setuju dan kecewa
dengan situasi lapangan kerja Indonesia saat ini:
Status
mereka yang unik tidak cari kerja membuat data BPS seputar pengangguran jadi
timpang. Secara strutktural, jenis pengangguran ini tersembunyi dibali data
statistika utama dan kurang mendapat sorotan. Pihak BPS hanya memasukan data
pengangguran yang masih cari kerja, tanpa hitung mereka yang secara aktif
menyerah tidak mau kerja lagi.
Dalam standar internasional, International Labour
Organization mengategorikan orang-orang ini sebagai discouraged workers. Ada
juga yang menyebutnya bagian dari labour underutilisation, yaitu kondisi ketika
seseorang ingin bekerja tetapi gagal terserap karena hambatan struktural.
Fenomena ini juga banyak ditemukan di negara berpendapatan menengah, bukan
hanya Indonesia.
Analisis LPEM dan berbagai lembaga internasional menunjukkan
akar masalahnya ada pada kualitas pekerjaan. Sekitar dua pertiga lapangan kerja
di Indonesia masih berproduktivitas rendah, sementara mayoritas tenaga kerja
berpendidikan menengah pertama atau lebih rendah. Kondisi ini membuat pencari
kerja sulit menemukan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan.
Istilahnya lulusan orang kuliah banyak tapi kesempatan kerja
yang ada kebanyakan bisa diisi SMA/SMK dengan bayaran lebih minim. Perusahaan
tentu malas pilih pekerja sarjana dan harus bayar lebih tinggi kalau kerjaan
itu bisa diselesaikan pekerja harga miring kelas SMA saja.
Dibanding negara berkembang lain yang sukses membangun
manufaktur ekspor dan jasa modern, Indonesia dinilai masih tertinggal dalam
menciptakan pekerjaan formal berproduktivitas menengah. Akibatnya, sebagian
pencari kerja bergeser dari fase “aktif melamar” menjadi “menyerah”.
Pemerintah tidak sepenuhnya diam. Kementerian
Ketenagakerjaan bersama International Labour Organization mendorong agenda
decent work, pelatihan vokasi, serta regulasi rekrutmen yang lebih inklusif.
Namun, hingga kini fenomena discouraged workers belum dijadikan indikator utama
dalam statistik resmi, sehingga sering luput dari perhatian publik.
Solusi masalah putus asa ini sebenarnya simpel, yaitu target
lapangan kerja negara lain yang masih terbuka. Pekerja Indonesia putus asa
karena situasi dalam negeri. Namun, kalau bisa kerja ke luar negeri, lebih
banyak kesempatan bisa mendatangkan karir lebih baik.
Contoh saja dengan ikut program magang Jepang pemerintah seperti IM Japan. Dijamin, kondisi pekerja Indonesia putus asa bisa berkurang. Soalnya sudah pasti dapat kerja di Jepang kalau lolos proses IM Japan sampai tahap Pelatnas!


