Angka Pesimisme Anak Muda Jepang Soal Masa Depan Meningkat, Mengapa Mereka Merasa Putus Asa?

 

Gak nyangka pesimisme anak muda Jepang sangat tinggi tingkatannya!
Kredit Gambar: Doan Anh/Unsplash

Hasil survey menunjukan angka pesimisme anak muda Jepang makin banyak. Mereka merasa pesimis khususnya terhadap kondisi diri sendiri dan masa depan negaranya. Dari survey ini juga ditemukan dibandingkan negara lain yang di survey, kondisi anak muda Jepang lebih banyak merasa putus asa!

Berasarkan Nippon Foundation Awareness Survey yang dilakukan untuk anak umur 18 tahun, hanya 16% responden di Jepang yang percaya kalau masa depan negaranya akan membaik. Dibandingkan responden dari negara lain seperti Amerika, China, Korea Selatan, Inggris dan India, hasil ini cuku membuat sedih.

Kalau negara lain masih banyak yang positif anak muda-nya. Contoh saja anak muda India dan China menunjukan presentasi kepercayaan tertinggi yaitu sekitar 62% dan 55%. Banyak anak muda dari dua negara ini masih optimis negaranya masih bisa berkembang dan tangani masalah yang sekarang dihadapi.

Untuk negara lainnya, Korea Selatan ada pada angka 23,5%, Amerika Serikat 30, 8% sedangkan Inggris 34%. Dibanding data-data anak muda negara lain yang masih percaya pada masa depan negaranya, angka 16% dari Jepang terlihat sangat kecil bukan?

Alasan angka harapan anak muda Jepang rendah adalah kondisi Jepang yang memang tidak kunjung membaik. Para golongan tua memegang tali pengendali negara tapi mereka mengarahkan kebijakan yang tidak sesuai dengan anak muda. Saat yang pegang keputusan adalah orang tua yang tidak dekat dengan golongan muda mereka, banyak kebijakan yang akhirnya kurang sinergi dan efektif.

Hal seperti inilah yang membuat kondisi Jepang menurun angka penduduknya selama 14 tahun berturut-turut. Demografi yang diutamakan adalah orang tua karena jumlah lansia di Jepang jauh lebih banyak daripada anak-anak-nya. Namun, hal ini membuat anak muda Jepang. merasa di nomor duakan dan akhirnya merasa putus asa.

Selain pesimisme anak muda Jepang seputar masa depan negaranya, mereka juga memandang masa depan mereka tidak cerah. Hanya 62% responden dari Jepang yang mengaku memiliki impian masa depan. Sisanya merasa tidak tahu bagaimana masa depan akan terjadi, banyak yang ragu apakah keinginan masa depan mereka bisa tercapai.

Angka survey anak muda Jepang ini lebih rendah dari India yang ada di posisi tertinggi soal optimis meraih mimpi masa depan. Angka responden India mencapai 86% soal ini.

Contoh pesimisme anak muda Jepang juga terlihat dari jawaban pertanyaan soal alasan belajar, bekerja dan melakukan hobi. Dari sekian banyak responden Jepang, hampi 20% menjawab “tidak memiliki alasan khusus” dalam menjalani proses belajar ataupun bekerja. Kalau responden negara lain yang menjawab “tidak memiliki alasan khusus” hanya 2% saja!

Para responden Jepang terkesan seperti hanya terbawa arus dan kurang mampu menunjukan motivasi untuk kejar mimpi. Tanda seperti ini bisa dibilang jadi pandemi di Jepang. Para anak muda di sana banyak yang depresi dan terkadang kurang mampu menunjukan motivasi untuk maju.

Dibandingkan negara lain, lebih banyak orang di Jepang juga merasa bahwa faktor seperti kewarganegaraan, gender, orientasi seksual, dan disabilitas dapat membatasi kesuksesan mereka. Mereka merasa hanya dengan ikut standar tinggi Jepang sajalah baru mereka akan sukses. Namun, aspek ini membuat banyak anak muda Jepang yang tidak mampu capai standar tinggi tersebut mudah menyerah.

Respon soal krisis demografi Jepang juga terlihat dalam survey. Sedikit anak muda Jepang menjawab menikah dan punya anak sebagai hal yang diinginkan. Hal ini menunjukan masalah kelahiran di Jepang tidak akan membaik sebelum pandangan di anak muda ini diperbaiki.

Walaupun China, Korea Selatan dan Jepang sama-sama mengalami penyusutan penduduk, hanya Jepang yang kondisinya paling parah. Survei ini menjadi bukti bahwa pandangan masa depan bisa menjadi cikal bakal banyak anak muda memilih tidak menikah ataupun punya anak.

Mudah-mudahan pesimisme anak muda Jepang dapat diperbaiki. Melihat kondisi demografi di sana, faktor pesimisme ini hanya akan memperkeruh keadanaan. Semoga Jepang tetap aman kedepannya!

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru