Daya Tarik Makanan Imitasi di Jepang, Pajangan yang Kelihatannya Enak Tapi Tidak Bisa Dimakan!

Tampilan makanan imitasi di Jepang yang benar-benar mirip aslinya.
Kredit Gambar: Wikipedia

Makanan imitasi di Jepang mungkin menjadi salah satu hal paling aneh yang bisa kamu lihat saat berjalan-jalan mencari restoran.

Bayangkan kamu melihat semangkuk ramen dengan kuah mengilap, telur setengah matang, dan mi yang terlihat seperti baru diangkat menggunakan sumpit. Kamu sudah mulai lapar, tapi ternyata semuanya terbuat dari bahan buatan.

Jangan kaget. Jepang memang punya budaya pajangan makanan realistis yang dikenal sebagai shokuhin sampuru.

Apa Sih Shokuhin Sampuru Itu?

Secara sederhana, apa itu shokuhin sampuru bisa dijawab sebagai replika makanan yang dibuat menyerupai hidangan asli.

Pajangan ini sering ditempatkan di depan restoran. Tujuannya agar orang yang lewat bisa langsung melihat makanan apa saja yang tersedia tanpa harus membaca seluruh menu.

Menurut Japan National Tourism Organization, makanan imitasi sudah lama menjadi pemandangan khas di depan restoran Jepang. Teknologi pembuatannya pun berkembang dari penggunaan lilin berwarna menjadi bahan yang lebih tahan lama seperti resin dan PVC.

Dulu, keberadaan pajangan seperti ini sangat membantu pelanggan melihat bentuk makanan sebelum fotografi makanan berwarna menjadi umum. Bagi wisatawan asing, tampilannya juga bisa membantu ketika tidak memahami tulisan Jepang.

Dari Pajangan Restoran Sampai Jadi Karya Koleksi

 Makanan imitasi di Jepang dibuat oleh seniman khusus dan sering jadi target kolektor seni.
Kredit Gambar: Wikipedia

Di sinilah fungsi shokuhin sampuru menjadi semakin menarik. Awalnya, replika makanan berkembang bersama budaya restoran Jepang sebagai cara memperlihatkan menu secara visual. Namun, seiring waktu, makanan imitasi tidak lagi hanya digunakan sebagai pajangan.

Pengrajin Jepang semakin mengembangkan kemampuan membuat detail makanan yang terlihat sangat realistis. Ada replika sushi, ramen, hamburger, es krim, hingga makanan yang terlihat seperti sedang jatuh atau melayang.

Ganso Shokuhin Sample-ya bahkan menjelaskan bahwa makanan imitasi kini tidak hanya berada di jendela restoran, tetapi juga dikembangkan menjadi produk kreatif yang memberikan unsur kejutan dan hiburan.

Sekarang, makanan imitasi di Jepang juga bisa ditemukan dalam bentuk gantungan kunci, magnet, hiasan, hingga produk premium buatan tangan. Beberapa toko bahkan menyediakan workshop agar pengunjung bisa mencoba membuat replika makanan sendiri.

Mungkin inilah yang membuat Jepang menarik. Hal sederhana seperti pajangan menu restoran bisa berkembang menjadi industri kerajinan yang punya nilai seni.

Jadi, kalau suatu hari kamu melihat ramen yang terlihat sangat enak di etalase restoran Jepang, jangan langsung mencoba menyentuhnya untuk memastikan. Bisa jadi, makanan imitasi di Jepang itu justru lebih awet daripada makanan asli yang akan kamu pesan.

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Pendaftaran Siswa Baru

banner

Artikel Terbaru