Sudah Tahukah Kamu Fakta Jam Kerja di Jepang? Berikut Bahasannya!
![]() |
| Kalau kamu paham fakta jam kerja di Jepang, kamu bisa persiapkan diri mulai dari sekarang! Kredit Gambar: /Unsplash |
Pertanyaan seputar jam kerja di Jepang menjadi hal penting
untuk pertimbangan kerja ke sana. Apalagi bagi WNI yang belum pernah merasakan
langsung lingkungan kerja Jepang. Kebanyakan dengar cerita soal pekerjaan yang
berat, tapi apakah ini benar?
Kamu harus paham kalau kondisi jam kerja di Jepang tidak
bisa disamaratakan. Ada pekerjaan yang cukup padat, ada yang memiliki lembur
rutin, dan ada juga yang jam kerjanya relatif teratur.
Pahami Kalau Jam Kerja di Jepang Tidak Berarti Lembur
Setiap Hari
Secara aturan, pekerja di Jepang pada prinsipnya bekerja
maksimal 8 jam sehari dan 40 jam seminggu. Jika perusahaan ingin memberikan
pekerjaan di luar batas tersebut, diperlukan perjanjian lembur yang dikenal
sebagai 36協定 atau sanjūroku kyōtei.
Lembur juga bukan sesuatu yang otomatis harus dilakukan
setiap hari. Jumlahnya bergantung pada kebutuhan perusahaan, jenis pekerjaan,
dan aturan yang tercantum dalam kontrak.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan
Kesejahteraan Jepang atau MHLW memberikan gambaran yang lebih nyata. Dalam
survei tahun 2025 terhadap pekerja asing, rata-rata pekerja dengan status 技能実習
memiliki 165,2 jam kerja reguler dan 21,4 jam kerja lembur per bulan.
Artinya, lembur memang menjadi bagian dari pengalaman sebagian pekerja asing di Jepang. Namun, angka tersebut juga menunjukkan bahwa anggapan “harus lembur setiap hari” tidak tepat.
Beban Kerja WNA di Sana Bisa Berbeda-beda
Besarnya beban kerja di Jepang untuk WNA sangat bergantung
pada bidang dan tempat mereka bekerja. Jadi, beban kerja bagi WNI juga
dipastikan berbeda juga tergantung penempatan.
Pekerja asing di bidang manufaktur, konstruksi, pertanian,
layanan, hingga pekerjaan profesional memiliki jenis tugas dan tuntutan yang
berbeda. Bahkan dalam satu bidang yang sama, kondisi antara satu perusahaan dan
perusahaan lainnya juga bisa berbeda.
Data MHLW menunjukkan bahwa pada pekerja dengan status 技能実習,
pekerjaan paling banyak berada pada sektor produksi, konstruksi dan
pertambangan, serta pekerjaan layanan.
Karena itu, calon pekerja sebaiknya tidak hanya melihat gaji
ketika memilih pekerjaan. Jam kerja, sistem shift, kemungkinan lembur, jenis
tugas, dan hari libur juga perlu dipahami sejak awal.
Kesibukan Kerja Bukan Berarti Tidak Ada Hari Libur
Bekerja di Jepang tetap memiliki aturan mengenai waktu
istirahat dan hari libur. Pekerja pada umumnya berhak mendapatkan setidaknya
satu hari libur setiap minggu atau empat hari dalam periode empat minggu. Jadi,
jam kerja di Jepang gak semengerikan sampai gak bisa liburan!
Untuk jam kerja lebih dari 6 jam, perusahaan juga wajib
memberikan waktu istirahat setidaknya 45 menit. Jika bekerja lebih dari 8 jam,
waktu istirahat minimalnya menjadi satu jam.
Namun, pola liburnya bisa berbeda. Ada pekerjaan yang
menggunakan pola Senin-Jumat, sementara pekerjaan lain menggunakan sistem
shift. Jadi, jangan menganggap semua pekerja asing di Jepang pasti libur pada
Sabtu dan Minggu.
Kesibukan Kerja di Jepang Harus Kamu Pahami!
Pada akhirnya, kesibukan kerja di Jepang memang bisa menjadi
tantangan bagi WNA. Bukan hanya karena pekerjaan, tetapi juga karena mereka
harus beradaptasi dengan bahasa, aturan perusahaan, budaya kerja, dan kehidupan
sehari-hari di negara baru.
Menariknya, survei MHLW menunjukkan bahwa 50,4% pekerja
asing yang disurvei melakukan pelatihan atau belajar untuk kebutuhan pekerjaan
dalam satu tahun terakhir, di luar pembelajaran bahasa Jepang. Bentuknya paling
banyak berupa belajar mandiri dan pelatihan dari tempat kerja.
Jadi, kehidupan kerja di Jepang tidak hanya soal datang ke
perusahaan, menyelesaikan pekerjaan, lalu pulang. Ada pekerja yang masih menggunakan
waktunya untuk meningkatkan kemampuan agar bisa mengikuti tuntutan
pekerjaannya.
Kamu Harus Siapkan Diri dengan Matang Sebelum ke Jepang!
Karena itu, sebelum berangkat, calon pekerja perlu
mempersiapkan kemampuan bahasa, keterampilan kerja, fisik, dan kedisiplinan.
Dengan persiapan yang baik, kesibukan di Jepang tidak harus menjadi sesuatu
yang menakutkan, tetapi bisa menjadi bagian dari proses membangun pengalaman
kerja dan kehidupan yang lebih mandiri.
Bagi yang ingin latihan dulu sebelum terjun ke dunia kerja
serius, disarankan untuk coba magang dulu lewat IM Japan. Program pemerintah
ini akan persiapkan kamu ke dunia kerja yang sebenarnya di Jepang. Untuk lebih
siap ikut IM Japan dan kerja di Jepang, jangan lupa latihan dulu di LPK Saitamaya!



