Badai di Jepang Akhir Juni 2026 Dipicu Dua Badai Tropis yang Bertumpuk, Jutaan Warga Harus Evakuasi!
![]() |
| Badai di Jepang kembali datang pada akhir Juni 2026 ini, mudah-mudahan pada aman semua. Kredit Gambar: /Unsplash |
Badai di Jepang kembali terjadi dan efeknya sangat parah.
Banyak orang awalnya meremehkan hujan deras yang melanda Jepang pada 25 hingga
27 Juni 2026 sebagai fenomena musim hujan biasa. Namun, efeknya langsung jadi
parah dan di lapangan ternyata jauh lebih rumit kondisinya!
Menurut Japan Meteorological Agency (JMA), badai di Jepang
pada akhir Juni 2026 diperparah oleh dua badai tropis yang datang hampir
bersamaan. Saat front hujan musim atau baiu front masih aktif, Badai Tropis
Mekkhala dan Badai Tropis Higos membawa tambahan udara hangat dan lembap ke
wilayah Jepang. Kombinasi inilah yang membuat hujan turun semakin lebat di
banyak daerah.
Berikut tampilan angin dan hujan badai di area Minamiboso yang terdampak parah waktu itu:
Tidak heran jika cuaca buruk Jepang di akhir Juni 2026
menjadi perhatian besar karena dampaknya terasa di berbagai wilayah.
Dua Badai Tropis Memperkuat Hujan Musim
Laporan Reuters menjelaskan bahwa Mekkhala bergerak melewati
Kepulauan Ryukyu setelah melemah dari status topan menjadi badai tropis. Di
waktu yang hampir bersamaan, Higos bergerak dari Samudra Pasifik menuju Jepang
bagian timur.
Meski jalur keduanya berbeda, efeknya saling memperkuat
sistem hujan musim yang sudah lebih dulu berada di atas Jepang. Akibatnya,
curah hujan meningkat tajam di wilayah barat, tengah, hingga timur Jepang
sehingga risiko banjir dan longsor ikut melonjak.
Lebih dari Satu Juta Warga Bersiap Mengungsi
Besarnya ancaman membuat pemerintah Jepang mengeluarkan
berbagai peringatan bencana. Berdasarkan laporan Reuters, sekitar satu juta
warga sempat berada dalam wilayah yang menerima perintah maupun imbauan
evakuasi karena risiko longsor, banjir, dan sungai meluap. Berikut contoh luapan banjir yang terjadi di kota besar Jepang waktu itu:
Sementara itu, JMA juga mengeluarkan peringatan Level 4 di
sejumlah daerah. Dalam sistem peringatan bencana Jepang, level ini berarti
warga yang berada di lokasi berbahaya diminta segera mengungsi sebelum situasi
menjadi lebih buruk.
Transportasi hingga Industri Ikut Terdampak
Dampak badai di Jepang juga terasa pada aktivitas
sehari-hari. Menurut Reuters, lebih dari 200 penerbangan dibatalkan, puluhan
perjalanan kereta dihentikan sementara, dan beberapa ruas jalan tol ditutup
karena kondisi cuaca yang membahayakan. Bahkan perusahaan Toyota menghentikan
sementara operasional salah satu pabriknya di Kyushu sebagai langkah
antisipasi.
Di sisi lain, Associated Press (AP) melaporkan banjir terjadi di sejumlah wilayah seperti Kyoto, Osaka, Nara, dan Hiroshima. Rekaman media Jepang juga menunjukkan Sungai Kamo di Kyoto meluap hingga menyebabkan puluhan rumah terdampak genangan. Berikut videonya:
Ancaman Terbesar Justru Datang dari Hujan
Saat mendengar kata badai, banyak orang langsung membayangkan angin kencang. Namun pada kejadian kali ini, ancaman terbesar justru berasal dari hujan yang turun terus-menerus.
Tanah yang sudah jenuh akibat musim hujan menjadi lebih
mudah longsor ketika mendapat tambahan curah hujan dari badai tropis. Sungai
pun lebih cepat meluap karena kapasitas tampungnya sudah mendekati batas.
Karena itulah Japan Meteorological Agency (JMA) terus
mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memperhatikan lintasan badai, tetapi
juga selalu mengikuti peringatan banjir dan longsor yang dikeluarkan pemerintah
daerah.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa cuaca buruk Jepang di akhir
Juni 2026 bukan sekadar hujan musiman biasa. Kombinasi musim hujan dan dua
badai tropis membuat pemerintah harus meningkatkan kewaspadaan demi mengurangi
risiko korban bencana maupun kerusakan. Masyarakat Jepang sepertinya masih waspada akan kondisi cuaca buruk ini.


